Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi

fin.co.id - 26/02/2026, 14:27 WIB

Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi

Manusia dalam lukisan-lukisan ini bukan simbol abstrak. Ia hadir sebagai subjek yang nyata, membawa beban sejarah, trauma, dan harapan.

Namun di belakang figur yang realistis itu, terbentang lanskap surealis. Latar belakangnya sering menyerupai dunia mimpi atau ruang batin yang terdistorsi. Air menjadi pusaran yang tak wajar. Langit terasa terlalu berat. Kota hadir sebagai siluet yang jauh dan tak peduli.

Surealisme di sini bukan permainan estetika, melainkan refleksi batin zaman dan dinamika sosial-politik yang mengguncang.

Imajinasi Nusantara lahir dari kontemplasi budaya tropis yang bertemu dengan teknologi digital.

Kecerdasan buatan digunakan untuk memperluas kemungkinan visual, mengeksplorasi tema-tema modern yang kompleks, dari trauma kolektif hingga era algoritma dan relasi manusia dengan gawai yang semakin intim.

Seperti tergambar dalam refleksi sebelumnya tentang kedekatan manusia dengan telepon genggam, teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan lingkungan hidup baru yang membentuk kesadaran.

Melalui pendekatan ini, karya-karya dalam genre Imajinasi Nusantara berupaya menangkap luka kolektif dengan kejujuran visual.

Ia juga secara halus menggugat estetika kolonial yang selama ini menempatkan simbol lokal sebagai pinggiran.

Dalam lukisan-lukisan ini, simbol Nusantara berdiri di pusat kanvas, sarat makna, dan berbicara dengan percaya diri.

Dengan demikian, Imajinasi Nusantara bukan sekadar teknik atau gaya. Ia adalah upaya membangun bahasa visual yang berakar pada identitas lokal, namun terbuka pada teknologi dan pergulatan global.

Ia menjadikan kanvas sebagai ruang dialog antara tradisi dan masa depan, antara ingatan dan kemungkinan, antara luka dan harapan.

-000-

Melalui 27 karya dalam serial ini, Denny JA memotret banjir, tanah longsor, hutan gundul, anak-anak yang duduk di atap rumah, ibu yang memeluk foto keluarga, ayah yang memanggul nenek tua di tengah air coklat.

Figur manusia digambarkan realistis, emosinya presisi, kerut wajahnya detail, air matanya jujur.

Namun lingkungannya selalu membawa unsur hiperbolik. Langit terasa terlalu berat. Air tampak terlalu luas. Akar pohon menyerupai luka terbuka. Seolah alam sendiri menjadi saksi sekaligus korban.

Sahroni
Sahroni
Penulis

Penulis senior di FIN.CO.ID dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di industri media. Spesialis dalam meliput dinamika dunia Sepak Bola dan inovasi Teknologi. Konsisten menyajikan analisis mendalam dan berita terpercaya sejak bergabung pada 2019.