Sebuah karya monumental — bukan hanya bagi sastra Indonesia, tetapi bagi jiwa bangsa yang ingin mengingat kembali dari mana api kemerdekaan itu pertama kali dinyalakan.
-000-
7. Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) — Denny JA
Link Buku: https://drive.google.com/file/d/12ecyTSvXNfvN48XD4IGyQlwZo12f7VfC/view?usp=sharing
Jika enam buku puisi esai Denny JA sebelumnya merekam sejarah Indonesia, maka buku ini menembus sejarah dunia: dari Revolusi Prancis dan Revolusi Rusia hingga Perang Dunia, Holocaust, Revolusi Mao Zedong, dan tragedi Vietnam.
Buku ini berisi lima belas puisi esai, masing-masing merekam episode sejarah besar yang mengguncang nurani manusia: dari malam Natal yang menghentikan tembakan di Perang Dunia I, pembantaian di Nanking, jatuhnya Tsar Rusia, hingga manusia perahu Vietnam.
Setiap kisah menyorot manusia kecil yang terombang-ambing di pusaran zaman, para korban, penyintas, dan saksi yang menggigil di arus sejarah.
Dalam pengantarnya, Denny JA menulis bahwa angka-angka sejarah sering beku, namun sastra memberi mereka napas.
Ia menolak sejarah yang dingin dan objektif, memilih menulis sejarah yang bergetar,!sejarah yang “berdenyut di dada manusia.” Puisi esai menjadi jembatan antara fakta dan empati, antara arsip dan doa.
Puisi Paling Menyentuh: “Malam Natal di Perang Dunia Pertama”
Baca Juga
Puisi ini adalah pembuka sekaligus simbol jiwa buku ini. Berlatar tahun 1914, di parit berlumpur Ypres. Seorang tentara Jerman muda bernama Ernst Keller mendengar lagu “Silent Night” berkumandang di malam Natal.
Dari seberang parit, Inggris dan Prancis, musuhnya membalas nyanyian dengan melodi yang sama.
Ia lalu keluar dari parit tanpa senjata, hanya dengan hati yang berdebar. Tentara lawan pun melakukan hal yang sama.
Di tengah salju dan mayat-mayat, mereka saling berjabat tangan, berbagi rokok dan cokelat, lalu bermain sepak bola bersama. Untuk satu malam, perang berhenti, kemanusiaan kembali menyalakan lilinnya di tengah gelap.
Keesokan paginya, mereka kembali diperintah menembak. Tetapi Ernst sadar: ada sesuatu yang mati dalam dirinya — bukan tubuh, melainkan nurani yang menolak membunuh mereka yang pernah menjadi teman.