5. Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024)
Link Buku: https://drive.google.com/file/d/1szruB2suenqBrUYq_lFmyIs9NzSWn6bO/view?usp=sharing
Buku ini adalah elegi bagi para eksil politik Indonesia pasca-1965: mahasiswa, seniman, dan diplomat yang dicabut kewarganegaraannya dan tak bisa pulang.
Mereka awalnya dikirim Bung Karno ke luar negeri untuk nanti menjadi pahlawan pembangunan Indonesia. Tapi politik berubah. Bung Karno jatuh. Mereka pun dianggap pengikut Bung Karno, bahkan komunis, yang menjadi musuh negara.
Denny JA menulis mereka bukan sebagai ideolog, melainkan manusia yang terasing antara dua tanah air, satu yang mereka cintai, dan satu yang menampung mereka tanpa kasih.
Puisi paling dramatis adalah “Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku.”
Sarjono, pelajar asal Malang yang tinggal di Amsterdam, menatap kincir angin berputar dan mengira angin itu membawa aroma sawah dari kampungnya.
Di usia 85 tahun, ia sadar: tubuhnya sudah menjadi milik negeri asing, tapi jiwanya tetap berbahasa Indonesia.
Adegan paling menyentuh adalah ketika ia menulis surat pulang yang tak pernah dikirim: “Aku pulang setiap kali aku bermimpi."
Puisi ini mengajarkan bahwa pengasingan sejati bukan soal jarak, melainkan kehilangan nama di tanah sendiri.
Baca Juga
Denny JA menulisnya dengan kelembutan melankolis, menjadikan rindu sebagai bentuk patriotisme paling murni.
Ia mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya milik pemenang, tapi juga milik mereka yang terus menatap tanah air dari jendela seberang.
-000-
6. Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024)
Link Buku: https://drive.google.com/file/d/1i25w1Ot4tbbs5OHrh0a0jkowkpOjNF7y/view?usp=sharing