Internasional . 28/01/2025, 17:02 WIB
Gencatan senjata yang rapuh ini dimulai setelah periode baku tembak antara Israel dan Hezbollah pada Oktober 2023.
Konflik ini meningkat menjadi skala penuh pada September 2023 dan berlarut-larut sepanjang tahun.
Sejak saat itu, ketegangan di wilayah perbatasan Israel-Lebanon terus meningkat, dengan gencatan senjata yang ditandatangani untuk meredakan situasi.
Namun, gencatan senjata tersebut tidak menghentikan pelanggaran berulang oleh Israel, yang telah menyebabkan kerugian besar bagi warga sipil di Lebanon.
Berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak serangan dimulai pada 8 Oktober 2023, lebih dari 4.080 orang tewas dan lebih dari 16.700 orang terluka.
Terdapat laporan juga mengenai kematian warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, yang semakin memperburuk krisis kemanusiaan.
Dengan meningkatnya pelanggaran dan ketegangan yang terus berkembang, banyak pihak, baik di dalam Lebanon maupun di luar, mempertanyakan apakah gencatan senjata yang telah dibuat dapat bertahan lebih lama.
Serangan yang terus berlanjut ini bukan hanya menggambarkan kegagalan diplomasi tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan yang tengah dialami oleh rakyat Lebanon.
Tidak ada jaminan bahwa perpanjangan waktu untuk menarik pasukan Israel akan menghentikan pelanggaran lebih lanjut atau bahkan meredakan ketegangan yang ada. (*)
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id