Sebuah puisi tidak lepas dari keindahan daya imajinatif yang membawa para pembacanya bertualang dalam pikiran mereka sendiri. Karena itu, dalam puisi esai, penulis juga diajak untuk mengasah daya imajinasinya agar tulisan menjadi indah.
Dalam “Azizah untuk Dato”, saya menciptakan satu adegan Azizah tersipu malu ketika Anwar Ibrahim menyanyikan lagu “Azizah padanya”.
_Sedikit nakal aku membayangkanya
Bagaimana pipi Wan Azizah begitu meronanya
Juga senyum manis tersipu di bibirnya
Saat Dato’ senandungkan lagu itu padanya_
Adegan ini adalah rekaan imajinatif. Tidak ada referensi valid yang secara eksplisit pernah menyebutkan adegan itu terjadi atau tidak. Namun bait-bait itu menjadi bumbu manis pada “Azizah untuk Dato”
5. Pemilihan kata yang sederhana namun indah
Semasa kuliah, saya menganggap bahwa puisi adalah soal kata-kata yang canggih. Begitu canggihnya, sampai-sampai saya sulit menjangkaunya. Karena itu, dalam membuat puisi esai, sebagai sebuah “tunas”, saya memilih untuk memperkaya Bahasa dengan kata-kata sederhana namun indah.
Dalam pemilihan diksi, saya lebih tertarik membuat rima. Karena menurut saya akan indah ketika dibacakan. Dalam “Azizah untuk Dato”, saya memperkaya Bahasa dengan penggunaan rima, seperti:
Baca Juga
_Ibarat embun yang menyapa di pelupuk fajar
Begitu teduh dan menyejukkan hingga ke akar
Pun demikian “Azizah” untuk Dato’ Anwar
Jujur mewakili rasa dengan kata tanpa kelakar_
Setelah “Pesan di Cermin” dan “Azizah untuk Dato’”, batin saya masih sering tersentuh. Saya kira akan lahir lagi puisi esai dari iPad saya.