Otomotif

Part 2: Solo Touring Jakarta-Bromo Pakai Honda GL-Pro 1996 Neo Tech Engine

fin.co.id - 05/06/2023, 23:33 WIB

Part 2: Solo Touring Jakarta-Bromo Pakai Honda GL-Pro 1996 Neo Tech Engine

Honda GL Pro Neo Tech Engine tahun 1996 160 cc saat berada di padang pasir Gunung Bromo.

Perjalanan menuju lokasi perkebunan jalannya menanjak. Jalannya pun sempit. Kondisi GL Pro Neo Tech 96 saya masih prima. Tanjakan terjal dengan mudah dilalui tanpa ada kendala berarti.  

Dalam perjalanan kami sudah disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Belum lagi jejeran hutan pinus yang sangat asri membuat mata betah berlama-lama menikmati keindahan alam. 

Honda GL Pro Neotech saat berada di Kebun Teh Medini, Kendal, Jawa Tengah-khanif lutfi-

Ada biaya retribusi sebelum masuk Taman Teh Medini. Saya lupa tepatnya, mungkin Rp10.000,- per orang dan Rp5.000,- untuk motor. 

Jalanan semakin terjal. Jalurnya pun semakin menanjak. Tidak beraspal, tetapi jalanan berbatu. Lagi-lagi Honda GL-Pro Neotech dengan mudah melahap tanjakan tersebut. Tidak ada kesuiltan berarti. Sampai saatnya kami tiba di lokasi kebun teh. 

Tidak ada pedagang memang, bahkan satu-satunya warung yang ada di situ pun tutup. Hanya ada seorang pekerja yang sedang merenovasi satu-satunya warung. 

Sang bapak bercerita, jika warung tersebut hanya buka pada Sabtu dan Minggu. Sedangkan ini hari Jumat. Jadi warungnya tutup. 

Tapi sang bapak dengan baik hati menawarkan kami jika memang ingin membeli air mineral atau mi rebus. Syaratnya harus masak sendiri, hehehe. Karena beliau sedang bekerja dan tangannya kotor. Bahkan, untuk harga pun beliau tidak hafal. 

Kami harus mencari sendiri di daftar menu. 

Waktu sekitar pukul 14.40 WIB  saat itu. Kabut mulai turun. Tetapi kami belum beranjak. Suhu di jam tangan saya menunjukkan angka 22 derajat celsius. Cukup dingin bagi kami yang tinggal di Ibu Kota. Makin betah berlama-lama.

Niat kami awalnya memang tidak lama, hanya ingin berfoto dan menghirup udara segar kemudian pulang. Karena saya harus mulai bekerja. 

Pukul 15.00 WIB kami pun turun. Tapi alam berkehendak lain. Dari yang awalnya gerimis kabut tiba-tiba menjadi hujan cukup deras. Apesnya lagi, jas hujan yang kami bawa tertinggal di rumah Yogud.

Tidak mau basah-basahan, kami pun memilih untuk meneduh di pos pintu masuk tempat kami membeli tiket. Ternyata hujan semakin deras. Ada satu rumah di situ, di bagian sampingnya ada garasi yang beratapkan seng. Kami pun pindah karena hujan belum menunjukkan tanda ingin berhenti. 

Kami memang membawa flysheet. Flysheet pun kami gelar hingga kami pun pulas. Baru sekitar pukul 16.30 WIB hujan benar-benar berhenti setelah kami dibangunkan oleh Yogud yang memang tidak tidur. 

BACA JUGA: 3 Rekomendasi Gunung untuk Pemula di Jawa Barat dan Jawa Tengah

Admin
Penulis
-->