Besek Wadas

fin.co.id - 22/02/2022, 08:12 WIB

Besek Wadas

Dahlan Iskan di Desa Wadas

"Ini khusus surat kuasa dari yang pernah ditahan, ditekan, dan di...," ujarnya.

"Mungkin hanya 15 orang. Itulah yang masih bisa dilakukan visum. Sudah keburu lewat beberapa hari," katanya.

Besok Ashadi ke Jakarta. Ke Mabes Polri. "Saya akan sampaikan kronologi peristiwa Wadas yang sebenarnya," tandas Ashadi.

"Seberapa tebal laporan itu?" “Tipis sekali. Hanya beberapa halaman. Mungkin hanya empat halaman," jawabnya.

"Seberapa beda dengan laporan kronologi yang dibuat Kiai Imam Aziz dari Tim Gusdurian?"

“Saya belum membaca laporan Kiai Imam. Tapi ini hanya khusus yang mengalami peristiwa secara fisik," jawabnya.

"Anda juga warga NU?" tanya saya ke Ashadi. "Iya. Saya nunut udut," kelakarnya.

NU memang biasa diplesetkan dengan nunut udut (ndompleng ikut merokok) lantaran banyak orang NU yang perokok berat.

Saya terus menelusuri jalan desa ini. Saya lihat banyak yang menjemur irisan bambu ukuran tipis-tipis di teras rumah. Itulah bahan baku untuk membuat besek–kotak terbuat dari anyaman bambu.

Hampir semua wanita di Desa Wadas jadi perajin besek. Bahan baku melimpah: bambu apus. Yang bisa diiris-iris sampai setipis kain. Ada mobil pikap yang mengumpulkan besek yang sudah siap jual: satu pasang besek Rp1.700 (wadah dan tutupnya). Begitu murah harganya –membuat mereka bertahan menghadapi besek modern berbahan dari plastik.

Sampailah saya ke sebuah rumah di pinggir parit. Dinding depannya penuh gambar dan tulisan. Pun di dinding sampingnya. Saya lihat seperti ada tulisan yang berbentuk puisi. Maka saya baca tulisan itu, dengan gaya seorang penyair amatiran. Lihat videonya di IG saya.

Setelah itu saya duduk di badug parit sebelah rumah. Ngobrol dengan warga di sekitar parit.

"Mana gunung batunya?" "Itu, di belakang rumah puisi itu," jawab salah satu dari mereka. Mereka menyebut jarak gunung batu dengan rumah puisi tersebut hanya 20 meter. Rasanya lebih sedikit.

Saya disuguhi buah-buahan hasil pekarangan: rambutan dan kepel. Rambutannya manis. Kepelnya seperti kesemek. Waktu kecil saya tidak pernah mau makan kepel di halaman rumah kakek buyut di pesantren Takeran. Kemarin saya memakannya.

Mata saya pun tertatap pada bibit-bibit pohon buah. Aneka pohon. Dijejer di pinggir jalan. Banyak juga bibit durian.

Admin
Admin
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca