ia maksud: harian Suara Merdeka, di Semarang.
"Kalau begitu, beri saja nama Rakyat Merdeka," kata saya.
Margiono pun setuju.
Lahirlah Rakyat Merdeka. Ternyata tidak hanya karyawan baru yang ikut Margiono.
Pun seluruh karyawan lama.
Merdeka tetap terbit.
Rakyat Merdeka muncul.
Yunasa, manager percetakan, membongkar mesin Israel itu dalam satu malam.
Sebenarnya saya ingin mengikat Margiono untuk tetap di Jawa Pos. Saya angkat ia jadi salah satu direktur Jawa Pos, meski hanya administratif. Tapi Margiono akhirnya
pilih di luar Jawa Pos. Ia sudah terlalu asyik dengan Rakyat Merdeka. Ia sudah melahirkan banyak koran di bawah bendera Rakyat Merdeka.
Bahkan ia membangun gedung tinggi di dekat BSD. Ada gedung kantor, ada hotel, dan business center.
Lalu saya mendengar Margiono menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Begitu banyak kegiatannya di PWI. Terutama di bidang pendidikan
wartawan. Ia ciptakan pula Press Card No One. Ia hormati para wartawan senior dengan kartu seumur hidup itu. Saya termasuk golongan pertama menerima kartunitu –entah di mana sekarang.
Margiono terpilih lagi, untuk periode kedua. Setiap tahun Margiono berpidato di depan Presiden –saat Hari Pers Nasional. Pidatonya selalu menggelitik dan lucu.
Mengkritik tapi juga memuji. Ia memang seorang dalang wayang kulit. Begitu juga adiknya. Maka saya pun