Gus Margiono

fin.co.id - 02/02/2022, 09:05 WIB

Gus Margiono

Logo Disway

Pak Diah pun mengumpulkan karyawan di rumah beliau. Di sekitar kolam renang.

Dengan gaya pidatonya yang agitatif dan penuh humor. Pak Diah menguraikan alasan mengapa memilih saya.

Margiono pun pindah ke Jakarta. Ia memimpin Harian Merdeka yang hampir mati.

Oplahnya, istilahnya, hanya satu becak –saking sedikitnya.

Mesin cetak koran itu juga sudah tua. Sudah sering batuk-batuk.

"Kapan saya dibelikan mesin cetak modern?" tanyanya pada saya.

"Kalau oplah Merdeka sudah 40.000," jawab saya.

Sehebat-hebat Margiono, saya pikir, baru akan mencapai oplah itu 3 tahun kemudian.

Saya salah.

Enam bulan di Merdeka, Margiono menemui saya: "oplah Merdeka sudah 45.000," Katanya.

Saya tahu maksudnya: nagih janji mesin cetak modern.

"Hah? Sudah 45.000?" tanya saya setengah kaget.

Ternyata benar.

Saya pun minta Misbahul Huda, dirut PT Temprina, anak perusahaan Jawa Pos, untuk mencarikan mesin. Kebetulan satu perusahaan Israel membatalkan pemesanan mesin. Sudah siap dikirim pula.

Dengan cara biasa pembelian mesin perlu waktu 2 tahun. Ini tinggal kirim. Maka saya minta mesin itu dikirim pakai pesawat: pertama di Indonesia kirim mesin cetak

Admin
Admin
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca