JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero) seharusnya membebaskan biaya penambahan daya listrik bagi masyarakat. Sebab, PLN saat ini mengalami surplus atau kelebihan daya listrik akibat penggunaan listrik industri yang berkurang karena pandemi, sehingga sudah sewajarnya konsumsi listrik masyarakat didorong melalui program tambah daya gratis. Hal itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan kepada Fajar Indonesia Network (FIN), saat dihubungi, Senin (24/5). "Sebagai single offtaker listrik, PLN seharusnya memberikan promo untuk tambah daya gratis bukan justru ada biaya yang harus di kelurkan oleh masyarakat," ujar Mamit. Sebagaimana kita ketahui, Dirut PLN, Zulkifli Zaini sebelumnya pernah mengatakan, konsumsi listrik rumah tangga mengalami kenaikan lebih dari 15 persen, namun listrik komersial seperti mall dan hotel turun lebih dari 10 persen sepanjang 2020. "Maka seharusnya PLN memberikan gimmick kepada pengguna rumah tangga untuk terus meningkatkan konsumsi mereka dengan berbagai macam promosi dimana seharusnya tambah daya ini gratis," kata Mamit. Menurutnya, ditengah turunnya konsumsi listrik yang mencapai total 10 persen dan perubahan orientasi dari supply driven menjadi demand driven, maka upaya itu harus dilakukan. Mamit menyebut tidak salah jika promo-promo dilakukan PLN untuk menarik konsumen. "Program kompor induksi yang sekarang sedang dikampanyekan, bisa di bundling dengan promo tambah daya gratis mendapatkan kompor listrik. Jelas promo ini sangat menarik bagi konsumen golongan menengah ke atas. Jangan hanya promo bagi pengguna mobil listrik gratis tambah daya karena populasi mobil listrik masih sangat sedikit," tuturnya. "PLN harus menyasar konsumen lain yang jumlahnya lebih besar. Selain itu, kehandalan PLN juga harus dijaga. Jangan sampai nanti masyarakat sudah tambah daya tapi listrik masih sering padam. Bisa dipastikan masyarakat akan kecewa dengan pelayanan PLN," pungkas Mamit. (git/fin)
Tambah Daya Listrik PLN Harusnya Gratis, Ini Sebabnya
fin.co.id - 24/05/2021, 17:33 WIB
Mayoritas masyarakat Kalimantan tersinggung dengan ucapan Edy Mulyadi. Dia menyebut Kalimantan Timur yang menjadi ibu kota negara (IKN) merupakan tempat jin buang anak.
TERKINI
Terpopuler
1
Kronologi Perseteruan Ruben Onsu dan Sarwendah: Berawal dari Nafkah Anak, Caci Maki, Lalu Minta Maaf
2 hari lalu
2
Ranking FIFA Timnas Indonesia Melonjak ke Posisi 118, Pelatih Oman Sebut Garuda Layak Lebih Tinggi
2 hari lalu
3
Jerman vs Amerika Serikat Laga Uji Coba: Tim Panser Menang 2-1
1 hari lalu
4
Hasil Uji Coba Brasil vs Mesir, Tim Samba Menang 2-1
1 hari lalu
5
Sekolah Berasrama untuk Anak Maluku Utara Disiapkan di Halmahera
2 hari lalu