Menghambat Perluasan Retakan Tenah, Saluran Irigasi Ditutup Sementara

Menghambat Perluasan Retakan Tenah, Saluran Irigasi Ditutup Sementara

BATANG - Guna memperlambat dan menghentikan laju perluasan tanah amblas dan merekah akibat fenomena sesar minor, maka saluran irigasi lahan pertanian di Dukuh Teropong dan Dukuh Kebun Agung, Desa Jolosekti, Kecamatan Tulis, untuk sementara waktu ditutup. Hal itu dibenarkan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang, Ulul Azmi, saat dihubungi via ponsel, Senin (02/03/2020) kemarin. Ia mengatakan, saat ini masyarakat atau petani di wilayah setempat hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi lahan pertaniannya. "Langkah ini saya kira tepat, karena seperti dikatakan Balai Energi dan Sumber Daya Mineral (BESDM) Provinsi Jawa Tengah, bahwa genangan air di lahan pertanian sangat berpotensi memicu terjadinya tanah amblas yang semakin dalam dan meluas," ujarnya.

BACA JUGA: Bakso Tikus Gegerkan Warga Mateng

Oleh karenanya, kata Ulul, areal lahan pertanian seluas 24,65 hektar yang saat ini sudah terdampak fenomena sesar minor, untuk sementara waktu tidak mendapat pasokan air dari saluran irigasi. "Langkah ini hanya untuk sementara waktu saja. Mungkin bisa sampai masa panen tiba nanti. Selama itu pula, maka petani masih bisa menggantungkan air hujan untuk mengairi lahan pertaniannya," katanya. Sementara itu, dikatakan Ulul, pihaknya masih mengandalkan alat Early Warning System (EWS) yang telah dipasangnya pada Jum'at (28/02/2020) lalu untuk mengetahui pergerakan tanah di lokasi terdampak sesar minor. "Jika terjadi penurunan tanah sedalam 10 cm, maka sirine dari alat ini akan bunyi. Sementara jika terjadi pergerakan tanah dibawah 10 cm, alat ini akan mengirim pemberitahuan melalui pesan singkat SMS ke empat nomor yang telah didaftarkan," terangnya. Empat nomor yang akan menerima pemberitahuan dari alat EWS itu, di antaranya Kepala Desa, Kepala Dusun, penduduk yang berada paling dekat dari lokasi kejadian, dan petugas BPBD Kabupaten Batang. Sebelumnya dikatakan Ulul, alat EWS atau sistem peringatan dini ini sebagai rangkaian sistem komunikasi informasi yang dimulai dari deteksi awal, dan pengambilan keputusan selanjutnya. "EWS merupakan alat sistem peringatan dini untuk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam, yang dapat berupa bencana maupun tanda-tanda alam lainnya," ungkapnya.

BACA JUGA: Menkes Terawang Bilang ga Takut Corona, Fadli Zon: Jangan Sok Jagoan

Menurutnya, peringatan dini pada masyarakat atas bencana merupakan tindakan efektif mencegah banyaknya korban jiwa dalam sebuah bencana. "Perlu diingat, meski tekhnologi dan kajian ilmiah mampu menentukan potensi gempa dan longsor, akan tetapi hingga saat ini tekhnologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan bencana gempa dan lainya akan terjadi," terangnya. Namun setidaknya, alat EWS diharapkan bisa meminimalisir bencana. "Saya harap masyarakat menjaga alat EWS tersebut, karena manfaatnya besar untuk keselamatan masyarakat di lokasi bencana," ujar Ulul. Ditambahkan Ulul, sudah ada satu rumah milik warga yang terdampak fenomena sesar minor tersebut. "Satu rumah milik warga sudah terkena dampak, namun rumah itu sudah lama tidak dihuni," pungkasnya. (fel)

Sumber: