Klaim Bank Indonesia: Rupiah Terjaga Ditengah Situasi Ketidakpastian Global

Klaim Bank Indonesia: Rupiah Terjaga Ditengah Situasi Ketidakpastian Global

Bank Indonesia--

JAKARTA, FIN.CO.ID -- Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) tetap terjaga, meskipun saat ini tengah berada dalam situasi ketidakpastian global. 

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di jakarta, Selasa 23 Agustus 2022 kemarin. 

(BACA JUGA:Bank Indonesia Putuskan kenaikan Suku BUnga Acuan 25 Bps jadi 3,75 Persen)

(BACA JUGA:Ramalan BI: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2022 4,5 - 5,3 Persen)

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia memutuskan kenaikan suku bunga BI7-DRRR sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen, kemarin. Hal itu sebagai respon dari tingginya inflasi global, yang kemudian memicu fluktuasi makroekonomi, termasuk di Indonesia.

"Dengan kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi," ungkap Perry.

Dipaparkan, nilai tukar rupiah pada 22 Agustus 2022 menguat secara rerata sebesar 0,94 persen, meskipun terdepresiasi 0,37 persen (ptp) dibandingkan dengan akhir Juli 2022.

Menurut Perry, perkembangan nilai tukar rupiah tersebut sejalan dengan kembali masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, terjaganya pasokan valas domestik, serta persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

(BACA JUGA:Penlok Terbit, Jasa Marga Targetkan Pembebasan Lahan Jalan Tol Kertosono-Kediri Berjalan Sesuai Rencana)

(BACA JUGA:Kurs Rupiah 15 Agustus 2022 Turun Tajam, Terseret Data Perekonomian China yang Tak Sesuai Perkiraan)

Dengan perkembangan ini, nilai tukar Rupiah sampai dengan 22 Agustus 2022 terdepresiasi 4,27 persen (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 6,92 persen, Malaysia 7,13 persen, dan Thailand 7,38 persen.

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi," pungkas Perry.

Sumber: