Kurs Rupiah 15 Agustus 2022 Turun Tajam, Terseret Data Perekonomian China yang Tak Sesuai Perkiraan

Kurs Rupiah 15 Agustus 2022 Turun Tajam, Terseret Data Perekonomian China yang Tak Sesuai Perkiraan

Ilustrasi Rupiah. FOTO: Mohamad Trilaksono - Pixabay --

JAKARTA, FIN.CO.ID -- Kurs rupiah 15 Agustus 2022 turun tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal itu salah satunya disebabkan data ekonomi China yang tak sesuai perkiraan dan membuat indeks dolar AS menguat. Hal inilah yang kemudian sehingga membuat rupiah terdepresiasi.

Mengutip data Bloomberg, Senin 15 Agustus 2022 pukul 15.00 WIB, kurs rupiah ditutup pada level Rp14.741 per dolar AS. Posisi rupiah menunjukkan pelemahan 73 poin atau 0,50 persen, bila dibandingkan dengan posisi penutupan pasar spot pada Jumat sore kemarin 12 Agustus 2022 di level Rp14.668 per dolar AS.

(BACA JUGA:Aliran Modal Asing Masuk ke Pasar Keuangan RI Sepekan Terakhir Capai Rp7,74 Triliun)

(BACA JUGA:Nilai Transaksi Harian BEI Sepekan Terakhir Turun Lebih Dari 9 Persen)

Direktur PT. Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan indeks dolar AS menguat pada Senin di tengah rilis serangkaian data ekonomi China yang mengecewakan. 

"Ditambah lagi People's Bank of China secara tak terduga menurunkan biaya pinjaman jangka menengah dan alat likuiditas jangka pendek untuk kedua kalinya tahun ini, sebesar 10 basis poin menjadi 2,75%," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin Sore, 15 Agustus 2022. 

Data ekonomi yang dirilis Senin menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi China secara tak terduga melambat pada Juli 2022. 

Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu masih berjuang untuk bangkit dari dampak pembatasan ketat Covid-19.

(BACA JUGA:IDEAS: RUU Omnibus Law Sektor Keuangan P2SK Berpotensi Lemahkan Perbankan Syariah)

(BACA JUGA:OJK Bakal Tetapkan Bunga Pinjol 0,46 Persen Per Hari, DPR: Sebulan 13,8 Persen, Apa Bedanya dengan Rentenir?)

"Output industri tumbuh 3,8 persen di bulan Juli dari tahun sebelumnya, dengan tingkat pertumbuhan di bawah perkiraan kenaikan 4,6 persen, sementara penjualan ritel naik 2,7 persen dari tahun lalu, meleset dari perkiraan untuk pertumbuhan 5,0 persen dan pertumbuhan 3,1 persen yang terlihat di bulan Juni," ungkap Ibrahim.

Dari dalam negeri, Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) masih mencetak surplus pada Juli 2022. Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat surplus neraca perdagangan barang Indonesia pada bulan tersebut sebesar USD4,23 miliar. 

Surplus itu lebih besar dibandingkan konsensus pasar yang memprediksi surplus Neraca Perdagangan pada Juli sebesar UD3,81 miliar.

Namun demikian, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan surplus Juni 2022 yang sebesar USD5,09 miliar. 

Sumber: