Harga Minyak Dunia Terkoreksi Turun, Brent dan WTI Kini di Bawah USD 100 Per Barel

Harga Minyak Dunia Terkoreksi Turun, Brent dan WTI Kini di Bawah USD 100 Per Barel

Ilustrasi, harga minyak dunia terus menurun-Pertamina-

AKARTA, FIN.CO.ID - Harga minyak dunia terkoreksi turun dan menetap di bawah level USD 100 per barel untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir

Harga minyak dunia terkoreksi turun karena penguatan dolar, pembatasan Covid-19 di importir utama China, serta meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

(BACA JUGA:Kasus Covid di China Menciptakan Kekhawatiran Baru, Harga Minyak Dunia Kembali Tertekan)

Harga minyak dunia terkoreksi turun menyusul satu bulan perdagangan yang bergejolak, di mana investor melepas minyak di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga agresif untuk membendung inflasi. Hal itu diyakini bakal memicu penurunan ekonomi yang akan memukul permintaan minyak.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup anjlok USD7,61, atau 7,1 persen menjadi USD99,49 per barel, terendah sejak 11 April. 

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, merosot USD8,25, atau 7,9 persen, menjadi USD95,84 per barel, juga level terendah dalam tiga bulan.  

Demikian dikutip dari laporan  Reuters,  di Houston, Selasa 12 JUli 2022 atau Rabu 13 Juli 2022 pagi WIB.

(BACA JUGA:IHSG 13 Juli 2022 Berpeluang Rebound, Beberapa Saham Pertambangan Jadi Rekomendasi Analis Hari Ini)

Sejak mencapai puncaknya tahun ini pada Maret lalu, Brent merosot 29 persen, sementara WTI tergelincir 27 persen.

Harga minyak dunia terkoreksi turun menghadapi tekanan ekstrim "karena postur defensif berlanjut dengan sentimen konsumen masih dalam pola tertekan seiring dengan munculnya kembali Covid di China," kata Dennis Kissler, Senior Vice President BOK Financial.

Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama, juga menguat pada awal sesi ke 108,56, level tertinggi sejak Oktober 2002.

Minyak umumnya dihargai dalam dolar AS, sehingga apresiasi  greenback  membuat komoditas itu lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Investor juga cenderung melihat dolar sebagai  safe-haven  selama volatilitas pasar.

(BACA JUGA:Harga Emas Hari Ini Turun ke Level Terendah 9 Bulan, Imbas Penguatan Dolar AS)

Kekhawatiran resesi juga memaksa investor untuk membuang derivatif terkait minyak pada salah satu tingkat tercepat di era pandemi.

Sumber: