Catatan Dahlan Iskan . 27/10/2026, 05:33 WIB
Bahwa Singapura teriak-teriak biarkan saja. Toh pasokan gas dari Indonesia itu tidak sampai 1 persen kebutuhan gas Singapura. Karena itu Singapura tidak mau menunjukkan rasa panik untuk menjaga ketenangan kalangan bisnis mereka.
Sebagian besar gas untuk negeri itu didatangkan dari Qatar dan Australia. Qatar sudah lama punya terminal LNG kelas raksasa. Australia punya terminal LNG baru di dekat Darwin.
Bagi Singapura kehilangan gas dari Indonesia tinggal menambah permintaan ke Qatar –kalau Iran tidak sedang blokade selat Hormuz. Masalahnya: bagaimana kalau harga gas Qatar lebih mahal dari gas Natuna. Mungkin akan terjadi kompromi. Selisih kemahalan tersebut dibuat sharing pain.
Atau Indonesia tidak mau tahu. Pokoknya produksi gas dalam negeri diutamakan untuk keperluan dalam negeri. Bisa juga dalam kontrak memang ada klausul seperti itu.
Apakah Indonesia juga akan berani menyetop pasok gas dari LNG Tangguh ke Tiongkok –lewat terminal LNG di pantai Putian, Fujian? Dengan alasan toh investasi Tangguh sudah terbayar kembali? Dan harga jual gas di zaman Presiden Megawati tersebut dianggap kelewatan murahnya?
Juga beranikah menghentikan ekspor gas dalam bentuk LNG ke Jepang –dari terminal LNG Donggi Senoro dekat Luwuk Banggai?
Perang sosmed soal asap kelihatannya akan berlanjut ke perang medsos soal gas. Tidak ada pabrik senjata yang diuntungkan ketika yang meletus adalah perang di medsos.(Dahlan Iskan).
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id