Internasional . 15/09/2026, 12:05 WIB
fin.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis kekhawatiran mengenai keselamatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Di tengah dorongan agar pengembangan teknologi tersebut diberi pengamanan lebih ketat, Trump bahkan menyebut ketakutan terhadap AI sebagai sebuah “hoaks”.
Pernyataan itu muncul ketika perdebatan tentang risiko AI kembali menguat. Sejumlah tokoh industri teknologi, peneliti, hingga politikus memperingatkan bahwa laju pengembangan model AI yang semakin canggih perlu diawasi secara independen. Namun, Trump melihat pembahasan tentang bahaya AI dapat menghambat posisi Amerika Serikat dalam persaingan teknologi dengan China.
Melalui sejumlah unggahan di media sosial, Trump menyamakan peringatan keselamatan AI dengan isu yang menurutnya dibesar-besarkan. Ia juga menyebut bahwa pihak yang paling diuntungkan jika Amerika Serikat memperlambat pengembangan AI adalah China.
“Siapa pun yang memenangkan AI, akan menang,” tulis Trump. Ia berpendapat pengamanan yang dibutuhkan AI cukup berupa kepemimpinan presiden yang kuat dan cerdas, bukan pembatasan baru yang dianggap berlebihan.
Sikap Trump bertolak belakang dengan kekhawatiran yang disampaikan sejumlah nama besar di sektor teknologi. Salah satunya adalah Jack Clark, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic. Ia menyatakan bahwa industri kemungkinan pada akhirnya membutuhkan aturan yang mewajibkan keberadaan mekanisme penghentian total atau kill switch untuk perangkat lunak AI yang dinilai berbahaya.
Kill switch pada dasarnya merupakan kemampuan untuk menonaktifkan sistem AI secara cepat apabila perilakunya menimbulkan risiko serius. Clark menyebut sebagian besar laboratorium AI telah mempunyai cara untuk “mencabut colokan” sistem mereka. Namun, ia menilai legislator mungkin perlu memastikan kemampuan tersebut tersedia dan dapat diperiksa oleh pihak ketiga.
Pernyataan ini mencerminkan perubahan penting dalam diskusi AI. Kekhawatirannya bukan hanya soal kesalahan jawaban, penyebaran informasi palsu, atau pekerjaan yang tergantikan otomatisasi. Perhatian kini mulai mengarah pada kemungkinan sistem AI beroperasi terlalu mandiri, sulit diawasi, atau digunakan untuk tujuan yang membahayakan manusia.
Seorang peneliti Anthropic yang pernah meninggalkan perusahaan itu, Jacob Coxon, turut memicu perdebatan setelah mengemukakan kekhawatiran tentang risiko AI terhadap kelangsungan hidup manusia. Ilmuwan Anthropic Evan Hubinger bahkan mengatakan peluang AI menyebabkan kepunahan manusia dalam satu dekade ke depan, menurut penilaiannya, lebih dari 10 persen.
Angka tersebut bukan prediksi pasti, melainkan gambaran seberapa serius sebagian peneliti memandang risiko jangka panjang AI. Meski begitu, pernyataan seperti ini juga memicu perbedaan pendapat karena penilaian mengenai risiko eksistensial AI masih sangat bergantung pada asumsi tentang kemampuan model di masa depan, tata kelola perusahaan, dan tindakan pemerintah.
Trump menempatkan persaingan geopolitik sebagai inti dari penolakannya terhadap pengetatan pengembangan AI. Amerika Serikat dan China saat ini berlomba membangun model AI, pusat data, cip semikonduktor, serta infrastruktur komputasi berskala besar.
Dari sudut pandang pemerintah yang berfokus pada persaingan global, pembatasan yang terlalu ketat dikhawatirkan memperlambat inovasi perusahaan Amerika Serikat. Kekhawatiran itu juga muncul karena pengembangan AI membutuhkan investasi sangat besar pada pusat data, energi listrik, chip, dan talenta teknologi.
Media pemerintah China menilai kecemasan Washington terhadap kemajuan AI China berpotensi memengaruhi prioritas kebijakan Amerika Serikat. Dengan kata lain, isu keselamatan AI kini tidak hanya menjadi persoalan teknologi, tetapi juga bagian dari rivalitas ekonomi dan strategis dua negara besar.
Meski demikian, kalangan yang menyerukan perlambatan tidak selalu meminta penghentian total inovasi AI. Mereka lebih banyak mendorong pengembangan yang dapat diuji, diaudit, dan dibatasi ketika model menunjukkan kemampuan berisiko tinggi. Gagasan ini mencakup pengujian sebelum peluncuran, transparansi terhadap kemampuan model, serta pemantauan pihak independen.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id