Internasional . 15/09/2026, 12:20 WIB
fin.co.id - Turki menghadapi krisis lahan basah yang kian serius. Sebanyak 186 dari sekitar 240 danau di negara tersebut disebut telah mengering, sementara danau-danau yang masih tersisa terus menghadapi tekanan akibat pengambilan air, pembangunan infrastruktur, serta perubahan iklim. Dampaknya tidak berhenti pada berkurangnya cadangan air. Wilayah ini juga merupakan salah satu titik penting bagi burung migran yang bergerak antara Afrika, Eropa, dan Eurasia.
Di timur laut Turki, Danau Aktas yang berada di perbatasan Turki-Georgia kini menjadi salah satu habitat yang masih bertahan. Danau ini didatangi beragam jenis burung, termasuk pelikan Dalmatia dan pelikan putih besar. Ekolog konservasi dan ornitolog Cagan Hakki Sekercioğlu menyebut Danau Aktas sebagai danau terakhir di Turki yang masih menjadi tempat singgah kedua jenis pelikan tersebut.
Namun, perlindungan untuk danau ini tidak dapat dilepaskan dari keadaan yang rapuh. Ketika sumber air menyusut dan lahan basah berubah menjadi tanah kering, burung-burung yang bergantung pada rute tersebut kehilangan lokasi untuk beristirahat, mencari makan, maupun berkembang biak.
Kawasan lahan basah di timur Turki berada pada jalur migrasi Kaukasus-Eurasia. Menurut data yang disampaikan dalam laporan BBC Future, wilayah itu mewakili 68 persen spesies burung yang tercatat di Turki. Nilai ekologisnya sangat besar karena burung migran membutuhkan jaringan habitat yang saling terhubung sepanjang perjalanan ribuan kilometer.
Danau, rawa, tepian sungai, dan genangan musiman bukan sekadar tempat burung berhenti. Lahan basah menyediakan air, ikan, serangga, tumbuhan air, serta ruang yang relatif aman untuk memulihkan energi sebelum kawanan melanjutkan penerbangan. Gangguan pada satu titik penting dapat memperbesar risiko kematian dan menurunkan keberhasilan migrasi pada musim berikutnya.
Para peneliti di Stasiun Pemantauan Burung Aras, Provinsi Igdir, menangkap burung secara hati-hati menggunakan jaring khusus, kemudian memasang cincin penanda, mengukur sayap dan berat badan, mengidentifikasi spesies, lalu melepasnya kembali. Data tersebut membantu ilmuwan memahami pergerakan burung dan perubahan yang terjadi pada populasi mereka dari waktu ke waktu.
Ancaman tersebut terlihat jelas di Danau Kuyucuk, sekitar 77 kilometer di selatan Danau Aktas. Pada 1997, kedalaman danau ini tercatat mencapai 13 meter. Ketika Sekercioğlu mulai menelitinya, kedalamannya telah menyusut menjadi sekitar 4,5 meter. Pada 2010, titik terdalamnya hanya sekitar satu meter.
Penyusutan itu terjadi akibat sejumlah faktor yang saling bertumpuk. Bendungan-bendungan kecil buatan warga menghambat aliran sungai yang memasok danau untuk memenuhi kebutuhan ternak. Sumur ilegal juga menguras air tanah. Dalam kondisi ketika kebutuhan manusia terhadap air bertabrakan dengan kebutuhan ekosistem, lahan basah sering menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan.
Tim konservasi pernah mendorong pengeboran sumur untuk mengalirkan air kembali ke Danau Kuyucuk. Langkah tersebut bersifat darurat dan tidak dapat menjadi jawaban jangka panjang. Mereka juga bekerja bersama warga untuk membongkar bendungan ilegal agar aliran ke danau kembali terbuka. Danau Kuyucuk memang tidak pulih seperti sebelumnya, tetapi setidaknya masih tersisa sebagai lahan basah dan belum sepenuhnya berubah menjadi hamparan debu.
Upaya pelestarian di Turki timur juga dihadapkan pada proyek infrastruktur. Rencana Bendungan Penyimpanan Tuzluca dikhawatirkan akan mengubah ekosistem lahan basah di sekitar Sungai Aras. Kelompok KuzeyDoğa Derneği menyebut rencana itu berpotensi menenggelamkan sejumlah desa dan lokasi stasiun pemantauan burung.
Pemerintah setempat mengatakan kajian lingkungan telah dilakukan dan terdapat rencana pembuatan pulau-pulau buatan untuk satwa. Namun, konservasionis mengingatkan bahwa habitat buatan tidak selalu dapat menggantikan fungsi ekologis lahan basah alami, terutama bagi spesies yang telah lama bergantung pada pola air, makanan, dan vegetasi tertentu.
Ancaman tersebut datang ketika Turki juga diperkirakan berisiko mengalami kekeringan parah menjelang 2030. Hampir 88 persen wilayah negara itu disebut menghadapi risiko penggurunan. Pengambilan air yang tinggi mempercepat tekanan terhadap danau dan air tanah, sementara suhu yang meningkat dapat menambah laju penguapan.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id