Lifestyle . 06/09/2026, 11:22 WIB
fin.co.id - Pekerjaan rumah tangga tidak selalu berupa aktivitas fisik yang dapat dilihat, seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, atau mengantar anak ke sekolah. Di balik semua pekerjaan tersebut, terdapat proses berpikir yang terus berlangsung untuk memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi. Beban tidak kasatmata inilah yang dikenal sebagai mental load atau beban mental.
Mental load mencakup kegiatan merencanakan, mengingat, mengatur, memantau, dan mengantisipasi berbagai kebutuhan rumah tangga. Contohnya adalah mengingat jadwal pemeriksaan dokter, memeriksa informasi dari sekolah, merencanakan makanan, membeli seragam, mengetahui persediaan yang hampir habis, hingga memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dalam pasangan heteroseksual, sebagian besar tanggung jawab kognitif tersebut masih ditanggung oleh wanita, terutama ibu. Kondisi ini dapat terjadi meskipun kedua pasangan sama-sama bekerja dan telah membagi pekerjaan fisik di rumah.
Penelitian yang melibatkan sekitar 3.000 orang tua di Amerika Serikat menemukan bahwa ibu menangani sekitar 71 persen tugas rumah tangga yang membutuhkan upaya mental. Penelitian tersebut dilakukan oleh akademisi dari University of Bath dan University of Melbourne.
Tugas yang dimaksud antara lain mengingat kapan seprai dan handuk harus dicuci, memantau makanan di dalam lemari pendingin, serta mengetahui berbagai kebutuhan anak. Sementara itu, ayah cenderung lebih banyak menangani tugas episodik atau pekerjaan yang tidak dilakukan setiap hari, seperti menjadwalkan servis kendaraan.
Profesor Leah Ruppanner dari University of Melbourne menggambarkan mental load sebagai pekerjaan yang tidak terlihat, terus berlangsung, dan tidak memiliki batas yang jelas.
"Anda tidak membawa piring kotor ke tempat kerja, tetapi Anda membawa beban mental ke mana pun Anda pergi," kata Ruppanner, sebagaimana dikutip BBC.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa beban mental tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan rumah. Daftar kebutuhan keluarga dapat terus memenuhi pikiran ketika seorang ibu sedang bekerja, beristirahat, atau mencoba tidur.
Perbedaan antara pekerjaan rumah tangga biasa dan mental load terletak pada tanggung jawab untuk memikirkan keseluruhan proses. Memasak makan malam, misalnya, bukan hanya tentang menyalakan kompor dan mengolah bahan makanan.
Sebelum memasak, seseorang harus memeriksa persediaan, menentukan menu, mempertimbangkan kebutuhan gizi anggota keluarga, berbelanja, dan memastikan makanan tersedia tepat waktu. Jika seluruh proses perencanaan tersebut dilakukan oleh satu orang, sedangkan pasangan hanya menunggu perintah, beban mental belum benar-benar terbagi.
Pertanyaan seperti "Apa yang bisa saya bantu?" mungkin terdengar baik. Namun, orang yang ditanya tetap harus mengidentifikasi pekerjaan, menentukan prioritas, memberikan instruksi, dan memastikan tugas diselesaikan. Dengan demikian, tanggung jawab berpikir masih berada pada orang yang sama.
Stacie Matthias, seorang ibu dari tiga anak, mengatakan bahwa apabila dirinya harus meminta pasangannya mengerjakan sesuatu, permintaan tersebut justru menambah beban mentalnya.
Mental load juga dapat digambarkan sebagai kondisi ketika seseorang harus selalu berada beberapa langkah di depan. Ia tidak hanya membayar biaya kegiatan sekolah, tetapi juga harus mengetahui batas pembayaran, membuka aplikasi sekolah, membaca pengumuman, dan mengingatkan anak tentang perlengkapan yang harus dibawa.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id