Lifestyle . 06/09/2026, 11:22 WIB
Salah satu penyebabnya adalah pembagian peran yang terbentuk sejak kelahiran anak. Wanita umumnya mengambil cuti melahirkan lebih lama dibandingkan cuti yang diperoleh ayah. Selama periode tersebut, ibu menjadi orang yang paling banyak mengetahui kebiasaan, kebutuhan, dan jadwal anak.
Ketika pola itu sudah terbentuk, anggota keluarga akan terbiasa menjadikan ibu sebagai orang tua utama atau default parent. Pertanyaan mengenai lokasi barang, jadwal sekolah, obat, makanan, atau kebutuhan anak kemudian lebih sering ditujukan kepada ibu, bahkan setelah ia kembali bekerja.
Peran tradisional juga masih berpengaruh. Dalam banyak keluarga, wanita sejak kecil lebih sering diperkenalkan dengan tanggung jawab domestik dan pengasuhan. Sebaliknya, pria mungkin dibiasakan menunggu arahan ketika mengerjakan tugas rumah tangga.
Ketimpangan tersebut tidak selalu muncul karena pasangan sengaja menghindari tanggung jawab. Sebagian pria mungkin telah mengerjakan banyak pekerjaan fisik, tetapi belum memahami proses perencanaan yang berlangsung sebelum suatu pekerjaan dilakukan.
Faktor lainnya adalah ekspektasi sosial terhadap ibu. Wanita sering dinilai berdasarkan kebersihan rumah, makanan anak, kehadiran dalam kegiatan sekolah, hingga kemampuan mengingat berbagai kebutuhan keluarga. Tekanan ini dapat membuat wanita merasa bahwa meninggalkan suatu tugas bukanlah pilihan yang dapat diterima.
Mental load yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan stres tingkat rendah dalam jangka panjang. Psikolog klinis Natasha Wallace mengatakan bahwa masalahnya sering kali bukan berasal dari satu tekanan besar, melainkan dari ratusan tuntutan kecil yang membuat otak dan tubuh sulit berhenti bekerja.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan tidur, mudah marah, kelelahan, dan decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Dalam psikologi kognitif, perhatian dan kapasitas memori kerja manusia memiliki keterbatasan. Ketika terlalu banyak informasi harus disimpan dan dipantau secara bersamaan, kemampuan berkonsentrasi serta membuat keputusan dapat menurun.
Beban domestik juga dapat memengaruhi kehidupan profesional. Wanita yang terus memikirkan kebutuhan keluarga saat bekerja mungkin memiliki lebih sedikit energi mental untuk menyelesaikan pekerjaan, mengembangkan kemampuan, atau mengejar kenaikan jabatan.
Penelitian lain dari University of Bath menemukan bahwa peningkatan pendapatan wanita dapat mengurangi jumlah pekerjaan fisik rumah tangga yang mereka lakukan. Namun, jumlah pekerjaan kognitif yang mereka tanggung tidak mengalami penurunan serupa. Artinya, keberhasilan dalam karier belum tentu membebaskan wanita dari tanggung jawab mengatur rumah tangga.
Dalam jangka panjang, sebagian wanita mungkin memilih mengurangi jam kerja, mengambil pekerjaan paruh waktu, atau menghentikan karier karena kesulitan menanggung dua beban sekaligus. Karena itu, pembagian mental load juga berkaitan dengan kesetaraan kesempatan di tempat kerja.
Pembagian yang adil tidak selalu berarti setiap pekerjaan harus dibagi tepat 50:50. Kondisi pekerjaan, kesehatan, waktu, dan kemampuan masing-masing pasangan dapat berbeda. Hal terpenting adalah kedua pihak merasa pembagian tersebut adil dan dapat dijalankan secara berkelanjutan.
Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah memberikan kepemilikan penuh atas kelompok tugas tertentu. Sebagai contoh, salah satu pasangan bertanggung jawab atas seluruh urusan sekolah, sedangkan pasangan lainnya menangani makanan keluarga.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id