Tekno

Smart Glasses Mulai Dilirik sebagai Pengganti HP, Masuk Akal atau Sekadar Tren?

Smart glasses atau kacamata pintar perlahan berubah dari perangkat eksperimental menjadi produk teknologi yang semakin serius. Jika beberapa tahun lalu

Smart Glasses Mulai Dilirik sebagai Pengganti HP, Masuk Akal atau Sekadar Tren?
Smart Glasses, Ilustrasi DALL·E 3

Selama puluhan tahun manusia harus belajar menggunakan antarmuka komputer. Pengguna harus mengetahui aplikasi mana yang perlu dibuka, menu mana yang harus ditekan, dan tombol mana yang menjalankan fungsi tertentu.

AI generatif dapat membalik konsep tersebut.

Komputerlah yang mencoba memahami apa yang diinginkan manusia.

Alih-alih membuka aplikasi kalender, pengguna dapat mengatakan, "Apa jadwal saya sore ini?"

Alih-alih membuka aplikasi navigasi dan mengetik alamat, pengguna dapat meminta AI menunjukkan jalan menuju lokasi tertentu.

Alih-alih membuka kamera, mengambil foto, membuka aplikasi lain, lalu mencari informasi mengenai objek tersebut, pengguna cukup melihat objek dan bertanya.

Jika AI semakin akurat, kebutuhan terhadap layar untuk aktivitas sederhana dapat berkurang.

Secara teknologi, inilah salah satu argumen terkuat mengapa smart glasses mempunyai peluang menjadi antarmuka komputasi penting setelah smartphone.

Baterai Menjadi Masalah yang Sulit Diabaikan

Masalah terbesar smart glasses bukan hanya kemampuan AI, tetapi juga energi.

Smartphone mempunyai ruang yang jauh lebih besar untuk menempatkan baterai.

Kacamata tidak mempunyai kemewahan tersebut.

Baterai harus ditempatkan pada bingkai yang tipis dan tetap ringan agar nyaman digunakan sepanjang hari. Pada saat yang sama, perangkat dapat menjalankan kamera, mikrofon, speaker, Bluetooth, Wi-Fi, prosesor, sensor, dan kemungkinan layar.

Semua komponen tersebut membutuhkan listrik.

Selain kapasitas baterai, terdapat masalah panas.

Berita Terkait