Ini Waktu Terbaik untuk Makan Malam Menurut Penelitian Ilmiah Terbaru
Makan malam bukan hanya soal apa yang masuk ke dalam piring. Waktu ketika makanan dikonsumsi ternyata juga dapat memengaruhi cara tubuh mengolah gula,
fin.co.id - Makan malam bukan hanya soal apa yang masuk ke dalam piring. Waktu ketika makanan dikonsumsi ternyata juga dapat memengaruhi cara tubuh mengolah gula, mengatur rasa lapar, menyimpan energi, hingga mempersiapkan diri untuk tidur.
Penelitian dalam beberapa tahun terakhir semakin memperkuat bidang yang dikenal sebagai chrononutrition atau ilmu yang mempelajari hubungan antara waktu makan, jam biologis tubuh, dan kesehatan. Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian yang mengatur berbagai fungsi selama sekitar 24 jam, termasuk metabolisme dan respons terhadap makanan.
Karena itu, makan malam terlalu dekat dengan waktu tidur bukan sekadar persoalan membuat perut terasa penuh. Pada kondisi tertentu, kebiasaan tersebut dapat membuat tubuh memproses makanan secara berbeda dibandingkan ketika makanan dikonsumsi lebih awal.
Jadi, Kapan Waktu Terbaik untuk Makan Malam?
Tidak ada satu jam yang berlaku mutlak bagi semua orang. Namun, bukti ilmiah saat ini secara umum mendukung pola makan yang lebih awal dan teratur.
Salah satu prinsip yang paling mudah diterapkan adalah menyelesaikan makan malam sekitar tiga jam sebelum tidur. Dengan pola tersebut, tubuh memiliki waktu untuk mencerna makanan sebelum memasuki periode istirahat malam.
Misalnya, jika seseorang biasanya tidur pukul 22.00, makan malam dapat ditargetkan selesai sekitar pukul 19.00. Jika waktu tidur pukul 23.00, makan malam sekitar pukul 20.00 masih memberikan jarak yang cukup.
Yang lebih penting, makan malam sebaiknya tidak menjadi makanan terbesar dalam sehari. Pola yang lebih sesuai dengan ritme biologis tubuh adalah mengonsumsi lebih banyak energi pada bagian awal hari dan memilih makan malam yang lebih ringan.
Mengapa Makan Malam Terlalu Larut Bisa Menjadi Masalah?
Tubuh tidak bekerja dengan cara yang sama sepanjang hari.
Sensitivitas insulin, hormon yang membantu memasukkan glukosa dari darah ke dalam sel, biasanya mengikuti ritme sirkadian. Seiring hari semakin malam, kemampuan tubuh dalam mengatur glukosa dapat menurun.
Penelitian mengenai pola makan dan ritme sirkadian menemukan bahwa ketidaksesuaian antara waktu makan dan jam biologis dapat berkaitan dengan gangguan metabolisme glukosa serta peningkatan risiko masalah kardiometabolik. (Nature)
Baca Juga
Salah satu mekanismenya berkaitan dengan melatonin. Hormon ini meningkat ketika tubuh mulai bersiap untuk tidur. Ketika seseorang mengonsumsi makanan dalam kondisi tubuh sudah memasuki fase malam biologis, respons metaboliknya dapat berbeda dibandingkan ketika makanan dikonsumsi lebih awal.
Itulah sebabnya makan besar menjelang tidur bukan pilihan yang ideal jika dapat dihindari.