Internasional

Utang AS Melonjak Dua Kali Lipat, Kini Tembus Rp717.000 Triliun

Utang nasional Amerika Serikat kembali mencatat rekor setelah menembus angka US$40 triliun. Jika dikonversikan ke rupiah dengan kurs sekitar Rp17.900 per dolar

Utang AS Melonjak Dua Kali Lipat, Kini Tembus Rp717.000 Triliun
Utang AS, Image: DALL·E 3

Sebagai perbandingan, rasio utang terhadap GDP Inggris berada di sekitar 103,6 persen, sedangkan China sekitar 106,9 persen.

Jepang memiliki rasio yang jauh lebih tinggi, yakni lebih dari 200 persen.

Rasio tersebut tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan apakah sebuah negara berada dalam kondisi ekonomi yang buruk. Kemampuan pemerintah membayar utang, struktur pembiayaan, pertumbuhan ekonomi, tingkat bunga, serta kepercayaan investor juga memiliki peranan penting.

Kenaikan Bunga Menjadi Perhatian

Tekanan terhadap biaya pinjaman AS semakin terlihat ketika imbal hasil obligasi jangka panjang meningkat.

Departemen Keuangan AS kemudian mengumumkan rencana meningkatkan operasi pembelian kembali obligasi atau buyback dari sedikitnya US$2 miliar menjadi US$4 miliar.

Langkah tersebut dimaksudkan untuk memberikan dukungan likuiditas pada pasar obligasi jangka panjang.

Namun, sejumlah ekonom menilai dampaknya terhadap beban utang secara keseluruhan kemungkinan terbatas karena ukuran utang pemerintah AS sudah sangat besar.

Masalah yang lebih mendasar tetap berada pada besarnya kebutuhan pemerintah untuk membiayai defisit.

Kebijakan The Fed Juga Menjadi Faktor Penting

Situasi utang AS tidak dapat dipisahkan dari kebijakan Federal Reserve.

Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50 sampai 3,75 persen. Para pejabat The Fed masih mencermati perkembangan inflasi dan kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga.

Jika suku bunga tetap tinggi dalam waktu lama, pemerintah AS harus menghadapi biaya pembiayaan yang lebih besar ketika sebagian utang jatuh tempo dan perlu dibiayai kembali.

Sebaliknya, penurunan suku bunga dapat membantu mengurangi tekanan terhadap biaya pinjaman, meskipun keputusan tersebut tetap bergantung pada kondisi inflasi dan perekonomian.

Utang AS Bukan Sekadar Angka Fantastis

Berita Terkait