"Saat berada di belakang pembalap lain, semuanya menjadi seperti mimpi buruk hanya untuk menjaga kecepatan. Bahkan jika Anda lebih cepat, Anda tetap tidak bisa mempertahankan ritme. Jadi Anda membutuhkan ruang."
Ia juga menjelaskan bahwa setiap upaya untuk menghemat ban belakang justru berdampak buruk terhadap ban depan.
"Anda bisa mengambil garis balap yang berbeda untuk menghemat ban belakang. Tetapi apa pun yang dilakukan untuk menyelamatkan ban belakang, ban depan justru semakin terkikis."
Menurutnya, ketika semakin dekat dengan pembalap di depan, ban depan terus bergerak dan kehilangan stabilitas sehingga sangat sulit menciptakan peluang menyalip.
Fokus Mencari Solusi untuk Balapan Utama
Meski puas membawa pulang podium sprint, Di Giannantonio menilai tim masih harus mencari solusi agar lebih kompetitif pada balapan utama MotoGP Jerman.
"Balapan kali ini memang terasa sedikit aneh. Namun memang seperti itulah kondisinya. Kami harus beradaptasi dan melakukan sesuatu yang lebih baik untuk besok agar bisa menyerang."
Hasil finis ketiga di sprint juga membuat Di Giannantonio kini hanya terpaut 13 poin dari pimpinan klasemen sementara MotoGP 2026.
Referensi:
- Crash.net, "It's a Nightmare: Why Overtaking Was So Difficult in the Germany MotoGP Sprint"