Delapan Buku Puisi Esai Denny JA Resmi Terbit dalam Bahasa Inggris, Hadir di Google Books untuk Pembaca Dunia

fin.co.id - 02/07/2026, 09:09 WIB

Delapan Buku Puisi Esai Denny JA Resmi Terbit dalam Bahasa Inggris, Hadir di Google Books untuk Pembaca Dunia

Delapan Buku Puisi Esai Denny JA Resmi Terbit dalam Bahasa Inggris

3. Screams Following Liberation (2022), terjemahan dari Jeritan Setelah Kebebasan (2022) — potret konflik sosial Indonesia pasca-Reformasi.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/Screams_Following_Liberation_The_Drama_of_Indonesi?id=Vt6fEAAAQBAJ&hl=en_GB

4. The Remnants of the Independence Era (2024), terjemahan dari Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) — tentang mereka yang terlupakan dalam sejarah kolonial.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/The_Remnants_of_the_Independence_Era_Essay_Poetry_?id=OezuEQAAQBAJ&hl=en_GB

5. Those Who First Cried Freedom (2026), terjemahan dari Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2025) — para pelopor kebangkitan nasional sebagai manusia yang rapuh dan berani.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/Those_Who_First_Cried_Freedom_An_Essay_Poem_Series?id=tuvuEQAAQBAJ&hl=en_GB

6. Those Cast Out in the 1960s (2026), terjemahan dari Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024) — tragedi eksil Indonesia pasca-1965.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/Those_Cast_Out_in_the_1960s_Told_Through_a_Series_?id=jKvuEQAAQBAJ&hl=en_GB

7. Shivering in History’s Current (2026), terjemahan dari Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) — tragedi besar dunia dalam perspektif kemanusiaan.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/Shivering_in_History_s_Current_Fifteen_Dramas_of_W?id=g4PuEQAAQBAJ&hl=en_GB

8. Under the Shadow of Disaster (2026), terjemahan dari Atas Nama Bencana (2026) — krisis ekologis dan relasi manusia dengan alam.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/UNDER_THE_SHADOW_OF_DISASTER_A_Collection_of_Essay?id=CITuEQAAQBAJ&hl=en_GB

Delapan buku ini membentuk satu lanskap yang utuh: dari pengalaman personal, sejarah bangsa, tragedi global, hingga krisis lingkungan. Namun pusatnya tetap sama—manusia biasa yang terseret arus sejarah.

Dalam salah satu puisi esai, misalnya, seorang ayah digambarkan berjalan tanpa alas kaki menyusuri jalanan kota yang telah berubah, akibat bencana karena kerusakan ekologi.

Ia bertanya pada setiap pintu tentang nasib anaknya yang hilang. Di arsip, ia hanya tercatat sebagai satu dari “ribuan korban”; di halaman puisi, ia kembali menjadi tubuh yang lelah, suara yang serak, dan tatapan yang tidak bisa kita abaikan.

Sahroni
Sahroni
Penulis

Penulis senior di FIN.CO.ID dengan pengalaman lebih dari 5 tahun di industri media. Spesialis dalam meliput dinamika dunia Sepak Bola dan inovasi Teknologi. Konsisten menyajikan analisis mendalam dan berita terpercaya sejak bergabung pada 2019.