fin.co.id – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa belakangan ini dilaporkan menyebabkan sedikitnya 1.300 kematian. Fenomena tersebut memicu pertanyaan apakah kondisi serupa juga dapat terjadi di Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa secara teknis fenomena gelombang panas (heatwave) tidak terjadi di Indonesia. Meski demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai cuaca panas pada siang hari yang dapat berdampak pada kesehatan, terutama saat musim kemarau.
Dalam keterangannya, BMKG menjelaskan bahwa heatwave merupakan fenomena yang umumnya terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi. Kondisi tersebut dipicu oleh udara panas yang terperangkap dalam sistem tekanan tinggi berskala luas sehingga suhu tetap tinggi selama beberapa hari.
"Fenomena gelombang panas (heatwave) secara teknis tidak terjadi di Indonesia. Gelombang panas umumnya terjadi di lintang menengah-tinggi akibat udara panas yang terperangkap dalam sistem tekanan tinggi berskala luas. Sebaliknya, Indonesia yang berada di wilayah ekuator memiliki variabilitas cuaca yang cepat dan dinamika atmosfer yang berbeda," tulis BMKG lewat keterangannya, dikutip pada Selasa 30 Juni 2026.
BMKG menjelaskan, yang umumnya terjadi di Indonesia hanyalah peningkatan suhu panas harian akibat cuaca cerah dan rendahnya tutupan awan pada siang hari, terutama saat memasuki musim kemarau.
Meski Indonesia tidak mengalami heatwave seperti di Eropa, kondisi cuaca panas yang disertai kelembapan tinggi tetap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Menurut BMKG, kelembapan udara yang tinggi membuat keringat lebih sulit menguap. Padahal, proses penguapan keringat merupakan mekanisme utama tubuh untuk menurunkan suhu.
"Kelembapan (humiditas) bertindak sebagai 'pengali' dari tingkat bahaya suhu udara, menciptakan indeks panas yang jauh lebih menyengat. Indonesia adalah negara beriklim tropis dengan kelembapan alami yang tinggi" katanya.
Dijelaskan bawah, kelembapan tinggi mencegah keringat menguap dengan cepat dari kulit, padahal penguapan keringat adalah cara utama tubuh manusia untuk mendinginkan diri.
Jika cuaca terlalu panas dan sangat lembap, risiko kelelahan panas dan heatstroke akan meningkat drastis meskipun suhu absolutnya mungkin tidak mencapai angka 40°C seperti di Eropa).
Baca Juga
"Artinya, meskipun suhu udara di Indonesia tidak setinggi negara-negara Eropa yang mengalami heatwave, kondisi lembap dapat membuat suhu terasa lebih panas sehingga masyarakat tetap perlu menjaga kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan" kata BMKG.
Dampak Perubahan Iklim Tetap Mengancam Indonesia
BMKG juga mengingatkan bahwa perubahan iklim global tetap berpotensi memicu dampak serius di Indonesia, terutama saat puncak musim kemarau atau ketika terjadi fenomena El Niño.
Apabila suhu tinggi berlangsung dalam waktu lama disertai kekeringan, Indonesia berisiko mengalami peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut yang sulit dipadamkan. Selain itu, kenaikan suhu laut juga dapat memicu pemutihan terumbu karang (coral bleaching) yang mengancam ekosistem laut.
Karena itu, BMKG terus mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi puncak musim kemarau, menjaga kecukupan air, serta memperhatikan kondisi tubuh saat beraktivitas di bawah terik matahari.