Sepak bolanya yang lebih maju.
Presiden Mahuad jatuh karena menggantikan mata uang lokal menjadi dolar. Tapi presiden penggantinya, yang lebih nasionalis, ternyata tetap mempertahankan putusan Mahuad. Pun presiden-presiden setelahnya. Sampai sekarang. Sudah 25 tahun mata uang Ekuador sama dengan mata uang Amerika Serikat.
Maka para pemain sepa kbola Ekuador tidak perlu bingung dengan kurs. Tidak perlu kaget-kaget seperti saya: kok Amerika serbamahal begini ya --karena gaji dan otak saya masih rupiah.
Kini pendapatan perkapita Ekuador USD7.000 --Indonesia USD5.000. Sama-sama meningkat dibanding 25 tahun lalu. Hanya angka inflasi Ekuador tidak sampai satu persen. Harga-harga lebih stabil. Inflasi kita tiga persen.
Di mana presiden ”dola”' Mahuad sekarang? "Apakah masih di dalam penjara?" tanya saya kepada orang Ekuador yang duduk di sebelah saya di stadion New York New Jersey.
Hari itu, di sekitar saya memang dipenuhi pendukung Ekuador.
Di sela-sela mereka ada pendukung Jerman, sedikit.
Hanya empat orang yang mendukung Persebaya.
"Siapa? Mahuad? Saya tidak tahu," jawab penonton itu.
Lalu saya perhatikan wajahnya. Oh, terlalu muda untuk tahu peristiwa 25 tahun lalu.
Baca Juga
Mahuad, waktu itu memang hanya dua tahun menjadi presiden. Berbeda dengan Pak Harto. Banyak orang Indonesia masih tahu siapa Pak Harto --apalagi sering diingatkan di tulisan di belakang bak truk: masih lebih enak zaman saya tho?
Berarti saya harus bertanya ke penonton yang lebih tua: apa kabar Mahuad sekarang.
Ternyata ia sudah tidak di penjara. Mahuad memang dijatuhi hukuman penjara 12 tahun, tapi saat putusan itu dijatuhkan Mahuad sudah di Amerika. Rupanya penguasa baru Ekuador tidak benar-benar ingin memenjarakan Mahuad. Ia sudah berada di Amerika sebelum ditangkap. Perkaranya pun disidangkan secara in absentia --tanpa kehadiran terdakwa.
Jangan-jangan Mahuad berada di stadion yang sama saat saya menyaksikan Ekuador lawan Jerman itu.
Saya sapukan pandangan saya ke seluruh stadion: saya tidak melihatnya karena saya memang tidak pernah tahu wajahnya. (Dahlan Iskan)