Internasional . 23/06/2026, 18:55 WIB
fin.co.id – Pemerintah Lebanon resmi memulai babak pembicaraan baru dengan Israel pada Selasa, 23 Juni 2026 waktu setempat di Washington, Amerika Serikat (AS). Otoritas Lebanon menunjukkan tekad kuat untuk melanjutkan jalur negosiasi langsung ini.
Meski demikian, langkah diplomatik tersebut kini berada di bawah bayang-bayang keputusan sepihak Iran yang memasukkan urusan Lebanon ke dalam agenda negosiasinya dengan AS.
Para pejabat Lebanon terus bersikeras bahwa negosiasi tatap muka dengan pihak Israel menjadi satu-satunya jalan keluar untuk mengakhiri perang. Konflik besar ini sendiri telah berkecamuk sejak tanggal 2 Maret, saat kelompok bersenjata Hizbullah mulai menembaki wilayah Israel demi mendukung kepentingan Teheran.
Tindakan tersebut kemudian memicu serangan balasan udara dan darat dari militer Israel yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 4.000 jiwa di Lebanon.
Namun, rekam jejak diplomasi mencatat bahwa empat putaran pembicaraan antara Lebanon dan Israel yang berlangsung sejak April lalu selalu gagal menghasilkan gencatan senjata yang berkelanjutan.
Sebaliknya, jeda pertempuran terpanjang justru baru tercipta pada minggu ini. Momentum ketenangan ini muncul setelah Iran dan AS menyepakati sebuah nota kesepahaman bersama yang menetapkan penghentian pertempuran di semua front, termasuk di wilayah Lebanon.
Kesepakatan bilateral antara Washington dan Teheran tersebut langsung menggembirakan kelompok Hizbullah yang mendapat dukungan penuh dari Iran. Namun, di sisi lain, keputusan ini memberikan pukulan telak bagi kedaulatan negara Lebanon.
Para pemimpin negara, termasuk Presiden Joseph Aoun, sebenarnya telah berulang kali memperingatkan bahwa Teheran sama sekali tidak memiliki hak untuk bernegosiasi atas nama rakyat Lebanon.
Kepada Reuters, seorang pejabat Lebanon beserta dua pejabat asing yang bertugas di sana mengungkapkan bahwa kesepakatan rahasia Iran-AS telah mencabut pilar dukungan bagi negara Lebanon. Kondisi tersebut menempatkan Beirut pada posisi terlemahnya sekaligus memicu keraguan besar mengenai efektivitas serta kegunaan pembicaraan langsung dengan Israel minggu ini.
Pejabat internal Lebanon tersebut bahkan menyatakan sikap skeptis terhadap peluang kemajuan nyata dalam negosiasi yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari ke depan.
"Masih ada masalah mendasar tentang kepercayaan antara kami dan Israel dalam pembicaraan ini. Kami tidak dapat memenuhi tuntutan mereka, dan mereka menolak semua tuntutan kami," aku pejabat tersebut secara terbuka.
Dalam perundingan intensif di Washington ini, kedua belah pihak membawa misi utama yang saling bertolak belakang:T
Beirut memfokuskan tujuan utama mereka untuk mengamankan penarikan penuh pasukan militer Israel dari tanah mereka. Lebanon akan menuntut Israel menyampaikan sebuah jadwal penarikan pasukan yang masuk akal.
Pihak berwenang menganggap langkah ini sebagai satu-satunya kesempatan untuk menciptakan momentum perundingan sekaligus mengimbangi dominasi Iran.
Namun, tantangan berat menghadang karena para pejabat tinggi Israel justru menyatakan bahwa pasukannya akan tetap bertahan di Lebanon selatan tanpa batas waktu yang ditentukan.
Juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, menjelang negosiasi baru menegaskan bahwa Israel melihat tujuan perundingan ini untuk melucuti senjata Hizbullah dan mencapai kesepakatan perdamaian sejati dengan Lebanon.
Menurut pandangan Mencer, satu-satunya penghalang bagi terciptanya perdamaian di kawasan tersebut adalah kehadiran Hizbullah. "Itulah sebabnya kami percaya bahwa mereka harus dilucuti senjatanya dan dibubarkan," tegas Mencer.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id