Ragam . 16/06/2026, 10:00 WIB
Oleh Denny JA
Agustus 2025 akan lama tinggal dalam ingatan bangsa ini.
Sore itu Jakarta dipenuhi asap, teriakan, dan suara sirene. Di tengah kekacauan yang membelah jalan raya, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan terjatuh dan tak pernah bangkit kembali.
Ia bukan pemimpin demonstrasi. Ia bukan tokoh politik. Ia bukan aktivis yang berpidato di atas mobil komando.
Ia hanya rakyat biasa yang sedang mencari nafkah. Namun kematiannya mengubah arah sejarah.
Video tubuh Affan yang tergeletak di jalan menyebar ke jutaan telepon genggam hanya dalam hitungan jam. Wajahnya muncul di grup WhatsApp keluarga, di TikTok anak sekolah, di Instagram para pekerja muda, dan di linimasa para aktivis.
Dalam waktu yang sangat singkat, seorang anak muda yang sebelumnya tak dikenal berubah menjadi simbol nasional.
Dari Aceh hingga Papua, kemarahan bergerak lebih cepat daripada berita televisi. Demonstrasi meledak di berbagai kota. Sebagian berlangsung damai. Sebagian berubah menjadi bentrokan.
Beberapa kantor pemerintah dibakar. Gedung DPRD di Makassar menjadi puing. Korban jiwa berjatuhan.
Banyak orang bertanya: mengapa kematian satu orang bisa mengguncang sebuah negara?
Pertanyaan itu membawa saya pada kebutuhan yang lebih besar.
Peristiwa Agustus 2025 bukan sekadar kerusuhan. Ia adalah gejala sosial yang membutuhkan teori sosial baru untuk menjelaskannya.
-000-
Saya tumbuh dalam dunia yang mempercayai kekuatan data.
Sejak puluhan tahun lalu saya membaca survei, mempelajari perilaku pemilih, mengamati naik turunnya kepercayaan publik kepada negara.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id