IHSG Melemah di Awal Pekan Akibat Tekanan Global, Cek Rekomendasi Saham Analis Pagi Ini

fin.co.id - 08/06/2026, 10:17 WIB

IHSG Melemah di Awal Pekan Akibat Tekanan Global, Cek Rekomendasi Saham Analis Pagi Ini

IHSG hari ini melemah hingga 3,99 persen ke posisi 5.371,78 pada Senin pagi.

fin.co.id — Tekanan berat kembali melanda pasar modal tanah air pada awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 8 Juni 2026 bergerak melemah dipicu oleh kombinasi sentimen dari tingkat domestik maupun global.

Saat perdagangan dibuka, IHSG langsung anjlok 108,46 poin atau 1,94 persen ke posisi 5.486,31. Tekanan jual yang masif terus menekan indeks hingga merosot 222,29 poin atau 3,99 persen ke posisi 5.371,78 pada pukul 09.15 WIB.

Melihat kondisi pasar yang kurang kondusif ini, para analis menyarankan para investor untuk menahan diri dari tindakan spekulatif.

“Kiwoom Research masih menyarankan untuk kembali perbanyak wait and see sebelum ambil posisi beli/ average down,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Faktor Global: Ancaman Suku Bunga The Fed dan Konflik Geopolitik

Dari mancanegara, tema utama pasar saat ini adalah pergeseran fokus dari harapan pemangkasan suku bunga menuju risiko kenaikan suku bunga tambahan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini sepenuhnya memperhitungkan satu kali kenaikan suku bunga 25 bps sebelum akhir tahun, dan bahkan mulai memperhitungkan peluang kenaikan tambahan.

Kondisi tersebut terjadi setelah rilis data Nonfarm Payrolls AS Mei 2026 yang secara mengejutkan bertambah 172.000 pekerjaan, jauh di atas ekspektasi sebesar 85.000, sementara tingkat pengangguran tetap bertahan di angka 4,3 persen. Data ekonomi yang kuat justru menjadi kabar buruk bagi pasar saham karena memperkuat keyakinan bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama.

“Sehingga, membuat Chairman The Fed Kevin Warsh berpotensi mengambil sikap yang lebih hawkish dibanding ekspektasi pasar saat ini,” ujar Liza.

Selain masalah suku bunga, fokus utama pelaku pasar pada pekan ini juga tertuju pada perkembangan negosiasi AS dengan Iran. Investor ikut memantau respons Israel setelah serangan rudal Iran ke pangkalan udara Ramat David pada akhir pekan lalu.

“Perkembangan terkait Selat Hormuz akan menjadi faktor penentu arah harga minyak, inflasi global, dan ekspektasi suku bunga,” kata Liza menambahkan.

Pelaku pasar juga akan mencermati nada komunikasi Kevin Warsh dan pejabat The Fed lainnya. Di sisi lain, sentimen kawasan Asia datang dari Presiden China Xi Jinping yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara pada 8-9 Juni 2026 atas undangan Kim Jong Un. Kunjungan ini menjadi momen pertama Xi ke Pyongyang sejak 2019, sekaligus yang pertama oleh Presiden China dalam tujuh tahun terakhir.

Kunjungan yang relatif jarang oleh Xi ini—mengingat ia kini membatasi perjalanan luar negeri dan lebih sering menerima pemimpin dunia di Beijing seperti Donald Trump maupun Vladimir Putin—dipandang sebagai upaya Beijing mempertahankan pengaruh strategisnya terhadap Korea Utara sekaligus mengantisipasi perubahan keseimbangan kekuatan di Asia Timur.

Prospek Ekonomi dari Piala Dunia FIFA 2026

Di tengah sentimen negatif, ada perhatian pelaku pasar yang tertuju pada pembukaan Piala Dunia FIFA 2026 pada 11 Juni 2026. Turnamen besar ini diperkirakan memberi dorongan positif terhadap sektor perhotelan, transportasi, restoran, media, serta industri taruhan olahraga di Amerika Utara.

Deutsche Bank bahkan memproyeksikan total nilai taruhan olahraga selama turnamen dapat mencapai 3,3 miliar dolar AS, dengan potensi menyentuh 4,1 billion dolar dalam skenario paling optimistis.

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID