Ragam . 29/05/2026, 15:39 WIB
Karena itu, menurutnya, diplomasi Prabowo bukanlah diplomasi seremonial. Ia adalah diplomasi pembangunan.
Tentu, kedua pemimpin bukan tanpa keterbatasan. Macron menghadapi krisis legitimasi domestik pasca pembubaran parlemen, sementara Prabowo masih harus membuktikan diri di hadapan tantangan fiskal program unggulannya.
Denny JA menegaskan bahwa pertemuan Macron dan Prabowo memperlihatkan satu pesan besar tentang arah sejarah dunia.
Kita sedang memasuki zaman ketika negara-negara menengah tidak lagi sekadar menjadi penonton pertarungan para raksasa. Mereka mulai tampil sebagai pemain yang menentukan arah permainan.
Macron menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat mempertahankan kemandirian di tengah aliansi yang kompleks. Prabowo menunjukkan bagaimana sebuah bangsa berkembang dapat membangun hubungan dengan semua kekuatan besar tanpa kehilangan jati dirinya.
“Di abad yang penuh ketidakpastian ini, yang akan bertahan bukanlah mereka yang paling keras suaranya. Yang akan bertahan adalah mereka yang paling mampu menjembatani dunia yang terbelah.”
Dan sejarah sering kali berubah bukan oleh mereka yang memilih satu kubu, melainkan oleh mereka yang mampu berbicara dengan semua kubu.
Pada akhirnya, diplomasi ini adalah tentang keberanian merajut harapan di atas retakan dunia. Ini bukan sekadar urusan kuasa, melainkan upaya memastikan suara kemanusiaan tetap bergema melampaui sekat ideologi yang memisahkan.*
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id