Otomotif . 15/05/2026, 07:06 WIB
fin.co.id - Produsen otomotif Jepang, Honda, mencatat kerugian tahunan pertama dalam hampir 70 tahun setelah investasi besar mereka di sektor kendaraan listrik tidak memberikan hasil sesuai harapan pasar.
Perusahaan melaporkan kerugian operasional sebesar 423 miliar yen untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026. Kondisi ini menjadi pukulan besar bagi salah satu raksasa otomotif Jepang yang selama puluhan tahun dikenal stabil dan kuat di pasar global.
Lesunya permintaan kendaraan listrik menjadi faktor utama yang membuat strategi besar Honda di sektor tersebut gagal memenuhi target. Perusahaan sebelumnya memperkirakan pasar kendaraan listrik akan tumbuh lebih cepat, terutama di Amerika Serikat dan Asia. Namun kenyataannya, minat konsumen terhadap kendaraan listrik tidak berkembang secepat prediksi industri.
Selain tekanan pasar, perubahan kebijakan di Amerika Serikat juga ikut memperburuk kondisi bisnis Honda. Pemerintahan Presiden Donald Trump menghentikan insentif pajak untuk pembelian kendaraan listrik pada 2025. Sebelumnya, konsumen AS bisa mendapatkan potongan pajak hingga 7.500 dolar AS untuk pembelian kendaraan listrik baru.
Honda termasuk salah satu pabrikan yang cukup agresif mengejar transisi menuju kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menggelontorkan investasi besar untuk pengembangan baterai, produksi kendaraan listrik, hingga pembangunan rantai pasok baru.
Namun perlambatan pasar membuat banyak produsen otomotif mulai mengevaluasi ulang strategi mereka. Harga kendaraan listrik yang masih relatif mahal, infrastruktur pengisian daya yang belum merata, serta ketidakpastian ekonomi global membuat konsumen lebih berhati-hati membeli kendaraan listrik.
Analis industri otomotif menilai ukuran Honda yang sangat besar justru membuat perusahaan sulit bergerak cepat menghadapi perubahan tren pasar. Sebagai produsen lama dengan struktur bisnis yang kompleks, Honda membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan produksi dan strategi penjualan.
Tekanan juga datang dari tarif impor kendaraan dan komponen otomotif yang diberlakukan Amerika Serikat pada 2025. Meski tarif sempat diturunkan dari 25 persen menjadi 15 persen, dampaknya tetap membebani biaya produksi sejumlah perusahaan otomotif global.
Menghadapi situasi tersebut, Honda memutuskan untuk mengurangi sebagian target produksi kendaraan listrik mereka. Perusahaan juga mulai mencari komponen dari China demi menekan biaya produksi yang terus meningkat.
Sebagai langkah baru, Honda memilih memperkuat bisnis yang selama ini masih menghasilkan keuntungan stabil, yakni sepeda motor, layanan finansial, dan kendaraan hybrid.
Bisnis motor memang menjadi salah satu kekuatan utama Honda selama puluhan tahun. Di banyak negara Asia, termasuk Indonesia dan India, motor Honda masih mendominasi pasar berkat jaringan distribusi luas dan reputasi produk yang kuat.
Kendaraan hybrid juga dianggap lebih realistis dalam masa transisi industri otomotif global. Teknologi hybrid memungkinkan konsumen menghemat bahan bakar tanpa harus sepenuhnya bergantung pada baterai dan stasiun pengisian listrik.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id