Ambil contoh kalsium. Banyak orang mengonsumsi suplemen ini untuk menjaga kesehatan tulang. Namun jika dikonsumsi berlebihan, kalsium justru bisa memicu hiperkalsemia, yaitu kondisi kadar kalsium dalam darah terlalu tinggi.
Dampaknya tidak main-main. Kondisi ini dapat menyebabkan tulang melemah hingga meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal.
Fakta yang lebih mengkhawatirkan, sebanyak 62 persen responden di Indonesia tidak mengetahui batas maksimum konsumsi kalsium harian. Bahkan, 73 persen tidak memahami dampak dari konsumsi berlebihan.
Ini menunjukkan bahwa edukasi terkait dosis dan batas aman masih sangat kurang.
Konsumsi Suplemen Harus Jadi Tanggung Jawab Bersama
Dr. Alex Teo menekankan bahwa konsumsi suplemen yang bijak tidak hanya menjadi tanggung jawab konsumen. Semua pihak harus terlibat.
Konsumen perlu lebih aktif membaca label, mencari informasi, dan memastikan sumber yang digunakan kredibel. Jangan hanya tergiur tren atau rekomendasi tanpa dasar yang jelas.
Di sisi lain, tenaga kesehatan harus memberikan panduan berbasis ilmiah agar masyarakat tidak salah langkah. Sementara itu, produsen suplemen wajib menghadirkan transparansi, mulai dari pelabelan hingga kualitas produk.
Pendekatan ini menjadi kunci untuk memastikan keamanan dan efektivitas suplemen yang dikonsumsi masyarakat.
Edukasi Jadi Kunci di Tengah Tren Suplemen
Lonjakan konsumsi suplemen sebenarnya menjadi sinyal positif. Artinya, masyarakat mulai peduli terhadap kesehatan. Namun tanpa edukasi yang memadai, tren ini bisa berubah menjadi risiko.
Herbalife menegaskan pentingnya peningkatan edukasi agar konsumen mampu mengambil keputusan yang lebih tepat. Dengan pemahaman yang baik, suplementasi bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat, bukan sekadar ikut tren.
Baca Juga
Jika semua pihak bergerak bersama, mulai dari konsumen hingga produsen, maka praktik konsumsi suplemen yang bertanggung jawab bisa benar-benar terwujud. (ANTARA)