Ruang Cerita . 15/03/2026, 06:22 WIB
Setelah ritual di makam selesai, warga berkumpul di masjid atau mushola untuk acara megengan. Inilah saatnya warga saling berbagi. Setiap keluarga membawa makanan dalam wadah, lalu duduk melingkar di atas tikar panjang.
Ada satu makanan yang wajib ada: kue apem. Secara filosofis, kata "apem" dipercaya berasal dari kata afwan dalam bahasa Arab, yang artinya maaf. Kue ini jadi simbol sederhana untuk saling memaafkan sebelum masuk ke bulan suci. Hati harus dibersihkan dulu sebelum mulai berpuasa.
Di lantai masjid, semua orang duduk sama rendah. Fatma melihat bagaimana perbedaan pekerjaan atau status sosial hilang di momen ini. Orang tua yang sudah sepuh asyik bercerita dengan anak muda yang baru pulang merantau. Gadget sesekali keluar hanya untuk memotret momen kebersamaan, setelah itu disimpan kembali.
"Makan bareng ini cara kami menjaga persaudaraan. Tidak peduli kerjamu apa, di sini kita semua warga Karangtalun yang ingin menyambut Ramadan dengan hati senang," kata Fatma.
Keberhasilan Karangtalun menjaga tradisi ini adalah sebuah prestasi yang tidak banyak disadari. Di saat banyak ritual komunal mulai hilang karena dianggap tidak praktis, warga di perbatasan Magelang-Sleman ini justru menjadikannya sebagai identitas diri.
Bagi para pemuda, Nyadran adalah alasan kuat untuk pulang ke rumah. Mudik bukan hanya soal Lebaran, tapi soal berbakti kepada orang tua di bulan Sya’ban. Mereka pulang untuk menyentuh nisan leluhur dan mencium tangan orang tua yang masih ada.
Tradisi ini membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus membuang budaya lama. Gadget bisa hidup berdampingan dengan tahlil. Selama nilai menghargai orang tua masih dianggap penting, tradisi itu akan tetap hidup.
Malam semakin larut, warga mulai berjalan pulang dengan hati yang lebih tenang. Mereka telah menyelesaikan janji bakti mereka. Di sudut desa, Fatma menatap makam yang kembali sunyi dengan rasa syukur.
"Kami hanya ingin memastikan, saat Ramadan datang nanti, kami masuk ke dalamnya dengan tahu ke mana arah jalan pulang dan kepada siapa bakti ini harus diberikan," tutupnya.
Di Karangtalun, tradisi bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah napas yang terus dijaga, dari yang tua ke yang muda, membuktikan bahwa teknologi boleh maju, tapi rasa hormat pada orang tua tak boleh luntur oleh waktu.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id