Oleh: Sigit Nugroho
Namanya Hermanus Bambang. Usianya sekitar 36 tahun. Kelahiran 1989. Penampilannya santai: mengenakan jersey Paris Saint-Germain (PSG). Ia suka klub itu sejak era Lionel Messi –sebelum sang mega bintang pindah ke Inter Miami.
Bambang, saya biasa memanggilnya Bams (mengikuti Eks Vokalis band Samsons), adalah seorang perawat. Spesialisasinya di tempat paling kritis: ICU dan PICU. Kini ia sudah 10 tahun mengabdi di RSUD di kawasan Jakarta Pusat. Statusnya sudah mantap: PPPK sejak 2023. Sebelumnya ia merangkak dari bawah: jadi honorer, lalu kontrak, lalu jadi karyawan tetap di 2018.
Menjadi perawat sebenarnya bukan cita-citanya. Sama sekali bukan. Anda mungkin tidak menyangka: Bams muda justru ingin tinggal di kampung halaman di Sintang, Kalimantan Barat. Ingin jadi peternak ayam.
Bapaknya seorang petani sawit dan karet. Hanya lulusan SD. Tapi sang bapak punya visi lain: Bams harus jadi perawat. Alasannya sederhana tapi menyentuh: bapaknya sering sakit-sakitan. Ingin ada anak yang bisa merawatnya.
Bams sempat "memberontak" halus. Ia memilih kuliah jauh di Jakarta Utara –di Akper RS Harum. Pikirnya: kalau pilih yang jauh, pasti tidak diizinkan. Eh, bapaknya malah setuju. Ia pun "terjebak" dalam pengabdian yang kelak menyelamatkan banyak nyawa.
Lalu Covid-19 datang. Badai itu mengubah segalanya.
Bams adalah orang pertama di kompleks rumahnya yang terpapar virus itu. Ia kena dua kali. Saya ingat, waktu itu saya pengurus lingkungan. Setiap pagi saya pasti tanya ke Bams, mau pesan makan apa hari ini? lalu saya ingat makanan favoritnya Lele, ya ia pesan ikan lele.
Sedikit mengingat saat itu, ia mengaku sangat cemas. "Waktu itu belum ada obat. Alur penanganan (covid, red) belum jelas. Baju hazmat saja tidak ada," kenangnya.
Anda bisa membayangkan nakes kita saat itu: bertaruh nyawa hanya bermodalkan jas hujan plastik.
Baca Juga
Pernah, tengah malam pukul 02.00 pagi, ia ditelepon penanggung jawab IGD. Ada pasien Covid masuk. Bams langsung berangkat. Istrinya, Natalia –seorang guru di Strada– menangis melepasnya. Pikirannya kacau. Antara tugas dan rasa takut menulari keluarga.
Di RSUD, ia melihat pemandangan yang miris: jenazah ditumpuk-tumpuk saking banyaknya. "Cara melawan ketakutan saat itu cuma satu: berdoa," katanya.
Ia pernah tidak pulang berhari-hari karena karantina. Mengurus jenazah yang jumlahnya tak terhitung. Sehari bisa enam orang meninggal bersamaan. Tapi di balik duka itu, ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Terutama saat ia bertugas di ICU.
Bams mengenang, ia menangani seorang pasien wanita. Sudah pakai ventilator empat hari. Tidak sadarkan diri. Hari kelima, Bams dan tim mulai "membangunkan" pasien itu. Hari keenam lepas ventilator. Hari ketujuh pindah ke ruang biasa. Sembuh.