fin.co.id -Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan, Kamis. Mata uang Garuda masih berada dalam tekanan seiring penguatan dolar AS yang dipicu ketidakpastian perundingan perdamaian antara AS dan Iran.
Berdasarkan data Bloomberg pada 3 Juni 2026, rupiah dibuka di level Rp17.981 per dolar AS. Posisi tersebut turun 15 poin atau sekitar 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.966 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di kisaran Rp17.926 per dolar AS pada waktu yang sama. Angka tersebut juga lebih lemah dibandingkan posisi pembukaan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.858 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya dolar AS di pasar global. Sentimen investor masih dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi perdamaian antara AS dan Iran yang belum menunjukkan kepastian.
Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara. Ia optimistis kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.
Menurut Purbaya, kebijakan DHE SDA berpotensi meningkatkan ketersediaan devisa di dalam negeri melalui penempatan hasil ekspor sumber daya alam ke dalam sistem keuangan nasional.
Peningkatan pasokan devisa tersebut diyakini akan memperkuat likuiditas valuta asing di pasar domestik, sehingga mampu memberikan dukungan terhadap stabilitas kurs rupiah.
Purbaya memperkirakan dampak awal dari implementasi kebijakan itu akan mulai terlihat dalam waktu dekat. Ia menilai masuknya devisa hasil ekspor ke dalam negeri dapat menjadi faktor penopang bagi penguatan rupiah ketika sentimen pasar mulai mereda.
“Ketika sentimen yang berkembang di pasar mulai mereda, didukung oleh masuknya devisa hasil ekspor ke dalam negeri, maka rupiah berpeluang kembali menguat,” kata Purbaya di Jakarta.