"Mas maaf, tambah satu porsi nasi ya," pinta saya lagi.
Kuah yang gurih seolah memiliki daya magis yang memaksa tangan untuk terus menyuap. Rasanya, satu porsi nasi tidak akan pernah cukup untuk menuntaskan hasrat pada kuah kuning legendaris ini.
Lebih dari Sekadar Rasa
Restoran/Rumah Makan Empal Gentong H. Apud di Kota Cirebon - Tuahta Aldo -
Hanya dengan Rp 40.000 per porsi, kita bukan hanya mendapatkan kenyang, tapi juga narasi sejarah. Kuliner Cirebon adalah doa yang dihidangkan. Ia mengajarkan kita tentang bagaimana menerima perbedaan tanpa harus kehilangan jati diri.
Haji Apud sendiri kini telah melakukan inovasi dengan menyediakan varian kaleng agar rasa legendaris ini bisa melanglang buana, menjaga agar sejarah tidak berhenti di meja makan Battembat saja.
Siang itu, di tengah obrolan panjang tentang masa depan bersama G, saya menyadari satu hal. Bahwa setiap suapan Empal Gentong bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi tentang merawat ingatan.
Sejarah memang tidak hanya ditulis dalam buku, ia juga bisa dinikmati dalam setiap sendok kuah gurih yang membangkitkan kenangan. (*)