Jejak Akulturasi dalam Tungku Tanah Liat : Sebuah Kenikmatan Empal Gentong

fin.co.id - 24/01/2026, 20:35 WIB

Jejak Akulturasi dalam Tungku Tanah Liat : Sebuah Kenikmatan Empal Gentong

Empal Gentong dan Sate Kambing Haji Apud (Tuahta Aldo / fin.co.id)

"Mas maaf, tambah satu porsi nasi ya," pinta saya lagi. 

Kuah yang gurih seolah memiliki daya magis yang memaksa tangan untuk terus menyuap. Rasanya, satu porsi nasi tidak akan pernah cukup untuk menuntaskan hasrat pada kuah kuning legendaris ini.

Lebih dari Sekadar Rasa

Jejak Akulturasi dalam Tungku Tanah Liat : Sebuah Kenikmatan Empal Gentong

Restoran/Rumah Makan Empal Gentong H. Apud di Kota Cirebon - Tuahta Aldo -

Hanya dengan Rp 40.000 per porsi, kita bukan hanya mendapatkan kenyang, tapi juga narasi sejarah. Kuliner Cirebon adalah doa yang dihidangkan. Ia mengajarkan kita tentang bagaimana menerima perbedaan tanpa harus kehilangan jati diri. 

Haji Apud sendiri kini telah melakukan inovasi dengan menyediakan varian kaleng agar rasa legendaris ini bisa melanglang buana, menjaga agar sejarah tidak berhenti di meja makan Battembat saja.

Siang itu, di tengah obrolan panjang tentang masa depan bersama G, saya menyadari satu hal. Bahwa setiap suapan Empal Gentong bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi tentang merawat ingatan.

Sejarah memang tidak hanya ditulis dalam buku, ia juga bisa dinikmati dalam setiap sendok kuah gurih yang membangkitkan kenangan. (*)

Tuahta Aldo
Tuahta Aldo
Penulis

Saya merupakan jurnalis fin.co.id yang bertugas meliput peristiwa di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi. Selain aktif sebagai penulis berita, saya juga aktif menjalani hobi Fotografi dan travelling.