“Bien, gracias,” jawabku dengan bahasa Spanyol seadanya. Tidak lupa aku sisipkan senyum terbaik.
Dia balas tersenyum, lalu menawarkan sebotol air mineral. Bisa jadi dia melihat saya masih pucat kelelahan. Tak lama, dia berpamitan pergi.
Saya membuka botol air itu dan meneguknya hingga dahaga hilang. Berangsur energi saya pulih. Sebenarnya, saya sudah bisa kembali berjalan dan pulang ke apartemen. Namun kaki masih enggan beranjak dari kursi. Saya kembali memandangi lilin-lilin yang menyala hangat di altar gereja. Cahayanya yang begitu syahdu kembali mengantarkan saya masuk ke perenungan yang lebih dalam.
Saya merasa masuk ke sebuah ruangan penuh cermin. Di hadapan cermin-cermin itu saya memandang lekat-lekat diri saya, yang tengah mengenakan jilbab. Saya mempertanyakan diri sendiri. Apakah selama ini saya sudah cukup berperilaku islami? Ataukah jilbab di kepala saya ini hanya untuk menunjukkan bahwa saya muslim?
Dua tahun kemudian. Sesudah perenungan panjang, saya memutuskan melepas jilbab. Ini bukan karena saya tidak lagi memeluk Islam, melainkan karena saya ingin berdiri teguh dengan keislaman yang saya yakini, yakni Islam yang rahmatan lil ‘alamin; Islam yang bukan hanya diyakini di dalam hati, melainkan tercermin dari perilaku terhadap sesama makhluk hidup. Saya tidak ingin mengurung keyakinan saya pada simbol atau penanda tententu dan memilih untuk menjalankan keyakinan dengan lebih mindful, berkesadaran penuh akan nilai-nilai kebaikan yang bisa dilakukan.
Baca Juga
Seiring berjalannya waktu, pada masa pandemi saya berkenalan dengan Esoterika Forum Spiritualitas. Di Esoterika, saya menemukan cara menguraikan pertanyaan-pertanyaan yang lama bergantung di kepala saya, terutama mengenai agama dan nilai universal spiritualitas. Menariknya, hal ini semakin menguatkan saya pada keyakinan dan iman yang saya pegang teguh. Hanya saja, cara pandang saya yang semakin luas.
Karena itu, saya antusias melihat gerakan terbaru dari Esoterika Forum Spiritualitas yang membuat program fellowship untuk masuk ke kampus-kampus ternama di Indonesia. Gagasan besar semacam ini memang perlu masuk ke dalam kerangka pendidikan yang nantinya bisa membawa cara baru memandang konsep spiritual yang lebih luas dan bermakna serta pada akhirnya menciptakan gerakan bersama untuk menjaga tatanan harmoni dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat di Indonesia. ***