Saya sudah berjalan cukup lama menggendong ransel berisi laptop plus buku belajar bahasa Spanyol. Janin kecil berusia dua bulan saat itu ada di rahim saya. Tentu saja ini sangat menguras energi. Saya merasa begitu lelah hingga memutuskan untuk mencari tempat beristirahat. Posisi saya saat itu tidak jauh dari halte bus Transmilenio Museo del Oro. Transmilenio sendiri merupakan sistem transit cepat bus, yang kemudian diadopsi Pemerintah Kota Jakarta menjadi Transjakarta. Ternyata tidak ada tempat yang cukup nyaman untuk berteduh. Sementara saya perlu memulihkan energi agar bisa kembali ke apartemen di dekat Plaza de Las Aguas, yang berjarak kurang dari dua kilometer dari sini.
Saya mengamati suasana sekitar hingga akhirnya melihat Iglesia de San Francisco, gereja Katolik tua yang berdiri pada 1566. Pintu gereja terbuka. Tampak beberapa orang masuk ke sana. Karena merasa begitu lelah, sementara angin nakal makin terasa menusuk tulang, saya memutuskan masuk ke gereja. Saya duduk di barisan belakang di dalam gereja kuno bergaya Spanyol itu. Sejumlah jemaat yang hendak beribadah sore sudah mengambil tempat duduk masing-masing.
Awalnya ada rasa canggung. Bagaimana tidak. Saya seorang perempuan muslim Asia yang saat itu mengenakan jilbab. Dan saya berada di dalam gereja, di tengah-tengah jemaat Katolik Latinos yang hendak melaksanakan ibadah sore. Untungnya, tidak butuh waktu lama untuk merasakan suasana nyaman. Selain berada di ruangan hangat dengan arsitektur sangat cantik, ada lilin-lilin yang membuat ruangan semakin indah temaram.
Di luar dugaan, para jemaat yang hadir tidak memandang saya sebagai “mahkluk” aneh. Sebaliknya, mereka memberikan senyum terbaik dan tatapan lembut dan hangat. Sama sekali tidak ada pandangan sinis atau curiga.
Karena kehangatan ini, saya enggan untuk segera beranjak. Saya terus duduk mengikuti rangkaian ibadah sore. Sejujurnya, saya tidak memahami satu pun ritual yang sedang dijalankan. Khotbah disampaikan dalam bahasa Spanyol. Meski demikian, saya bisa menikmati suasana khidmat yang menyentuh hati. Saya pun terhanyut, terlebih saat memandang cahaya lilin di altar gereja.
Baca Juga
Tak terasa, saya masuk ke perenungan diri. Memori saya kembali ke peristiwa beberapa hari sebelumnya, tepatnya tanggal 16 November 2015. Waktu itu saya tengah berjalan menuju kampus Universidad Externado de Colombia, yang terletak di atas bukit, Seorang mahasiswa tiba-tiba datang dari arah belakang. Dengan tatapan sendu, dia bertanya, “Why did you kill innocent people in Paris?” Saya terkejut. Belum hilang keterkejutan itu, laki-laki muda tersebut berlalu masuk ke kampus.
Saya terpaku beberapa saat. Empanada hangat – sejenis roti isi mirip pastel – yang baru saja saya beli, terjatuh dari genggaman. Selang beberapa detik saya tersadar. Saya kembali berjalan ke arah kampus. Di depan kampus, bendera Prancis dikibarkan setengah tiang. Sebagai informasi, universitas ini terkenal sebagai kampus favorit bagi mahasiswa Prancis, terutama bagi mereka yang ingin belajar bahasa Spanyol.
Bendera Prancis setengah tiang itu ternyata tanda duka untuk 130 orang yang tewas akibat serangan teroris di Paris serta Saint-Denis, Prancis, pada 13 November 2015. Pelakunya adalah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) – sebuah kelompok radikal yang menyalahgunakan nama Islam.