Dapat dilakukan penghematan di sektor perkeretaapian perkotaan, seperti PSO KRL Jabodetabek. KRL Jabodetabek mendapat kucuran PSO sebesar Rp 1,6 triliun. Penumpang moda ini mendapat subsidi diberikan untuk penglaju (komuter) beraktiivtas pada hari kerja. Sejak tahun 2016, tarif KRL Jabodetabek belum pernah naik. Beberapa kali akan dinaikkan, namun tidak terealisasi. Kenaikan taif dapat diberikan pada kelompok tetrntu
Jika di akhir pekan (Sabtu dan Minggu) dan hari libur tidak diberikan subsidi atau subsidi dikurangi, maka dari kajian yang dilakukan tahun 2018 dapat dihemat sepertiga dari jumlah PSO yang diberikan (sekitar Rp 500 miliar). Akhir pekan dan hari libur, mayoritas masyarakat yang menggunakan KRL Jabodetabek untuk kegiatan sosial dan wisata. Wajar jika tidak mendapat subsidi seperti halnya di hari kerja.
Penghematan itu dapat dialihkan untuk menambah rute angkutan bus perintis di luar Jawa. Ada ketimpangan pemberian subsidi. PSO KRL Jabodetabek hanya untuk warga Jabodetabek mendapat Rp 1,6 triliun. Sementara angkutan bus perintis se Indonesia dengan 357 trayek mendapat subsidi Rp 212,28 miliar. Perlu pemerataan subsidi ke luar Pulau Jawa yang memang masih cukup banyak diperlukan.(Djoko Setijowarno)