
Survei Populix menampilkan mayoritas masyarakat gunakan teknologi dan kecerdasan buatan untuk mendukung produktivitas serta efektivitas kerja.-Populix-
Berikutnya, platform yang banyak digunakan oleh perusahaan adalah Zoom (68 persen), Google Workspace (49 persen), Microsoft Teams (31 persen), dan Google Product (19 persen).
BACA JUGA:
- Ini Alasan NU Fatwa Haram Mondok di Ponpes Al-Zaytun
- Bocoran iPhone 15 Flip Terbaru: Kisaran Harga Jual di Indonesia Rp17 Jutaan, Setara Dengan Motorola Razr 5G
Selanjutnya, 45 persen masyarakat saat ini juga menggunakan platform berbasis AI untuk menunjang efektivitas pekerjaan, seperti ChatGPT (52 persen), dan Copy.ai (29 persen).
Platform tersebut banyak digunakan oleh masyarakat karena terdapat tools untuk bekerja (75 persen), banyak template untuk pekerjaan lainnya (53 persen), dan membantu mencari ide (44 persen).
Penggunaan platform-platform tersebut juga diwajibkan oleh kantor, institusi, dan kampus untuk digunakan (26 persen).
Platform untuk Meningkatkan Kemampuan Diri
Riset tersebut juga mengungkapkan bahwa 73 persen masyarakat saat ini bekerja sesuai dengan passion mereka.
BACA JUGA:
- Link Nonton Demon Slayer Season 3 Episode 11 Sub Indo, Klik di Sini Gratis
- Daftar Hp Xiaomi Terbaru 2023, Intip Spesifikasi dan Harganya Disini
Walaupun demikian, masyarakat terus ingin meningkatkan kemampuan mereka di berbagai bidang lainnya agar dapat bersaing dengan kondisi kerja masa depan.
Sebanyak 8 dari 10 masyarakat tertarik untuk mengikuti kegiatan yang dapat mendukung pengembangan keahlian seperti public speaking (46 persen), entrepreneurship (45 persen), digital marketing (44 persen), data analysis (42 persen), dan communication skill (40 persen).
Meneliti lebih lanjut, Gen Z lebih tertarik untuk meningkatkan kemampuan mereka di bidang public speaking, sedangkan milenial dan generasi tua lebih tertarik untuk meningkatkan kemampuan di bidang entrepreneurship.
Untuk mengembangkan kemampuannya masyarakat tidak ragu untuk mencari dan mengikuti pelatihan secara pribadi seperti pelatihan online (76 persen), pelatihan offline (54 persen), dan pelatihan yang dilakukan oleh komunitas (48 persen).