- Hasil RUPST! Jasa Marga Sebar Dividen Rp549,38 Miliar
- Jasa Marga Segera Operasikan Tol Serpong-Cinere Seksi 2
Bahaya Jika Dilanjutkan
Musfihin mengatakan, keberlanjutan inisiasi MLFF harus terus dilanjutkan, namun ia secara tegas mengutarakan bahwa keberlanjutan kerjasama dengan kontraktor yang ada saat ini harus dikaji ulang.
Pemerintah dalam hal ini Kementerian PUPR melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), kata Musfihin, harus melakukan kajian secara mendalam terhadap sistem MLFF yang digagas kontraktor Hungaria tersebut.
"Karena kalau tidak, pemerintah akan mendapat teknologi yang tidak handal dan tepat guna, dan akan merugikan BUJT dan user atau pengguna (Jalan tol)," ungkapnya.
BACA JUGA:
- Pemilik Travel Agent Pernah Dilaporkan ke Polisi, Sebelum Tilep Uang Study Tour Siswa MAN 1 Bekasi
- Jasa Marga Catat 1,096 Juta Kendaraan Keluar Jakarta Dalam 10 Hari Arus Mudik
Ia mencontohkan, dengan sistem yang dibuat oleh Roatex. Ltd. Zrt. tersebut, match matchingnya belum bisa tercapai.
"Misalnya orangnya (Pengguna) ada di jalan arteri, dikenakan tarif tol," tuturnya merujuk pada jalan tol dalam kota Jakarta yang bersebalahan dengan jalan arteri.
Kedua, lanjut dia, terkait dengan enforcement, yaitu kamera Artificial Intelegent (AI) yang performanya dianggap masih jauh dari sempurna.
"Masih belum bisa mendeteksi 100 persen traffic yang dijanjikan," ungkapnya.
BACA JUGA:
- Ada Semburan Api di Rest Area KM 86 B, ASTRA Tol Cipali Lakukan Hal Ini
- Traffic Meningkat 4.1 Persen, Begini Antisipasi ASTRA Tol Cipali Dukung Arus Mudik dan Balik Lebaran 2023
Ketiga, kata Musfihin, yaitu kemampuan sistem untuk mengumpulkan tarif tol, masih di bawah 40 persen.
"Saya kira itu diluar yang diperjanjikan," jelasnya.