Demensia adalah penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir bagi penderitanya. Penyakit itu rentan terjadi pada kelompok masyarakat lansia.
Gejalanya diikuti dengan gangguan cara berpikir, seperti disorientasi tempat, waktu, hingga lupa dengan orang-orang di sekitarnya.
Umumnya gejala yang bisa terlihat di awal seperti mudah lupa, terutama untuk kejadian-kejadian yang baru saja dialami, kemudian sulit mempelajari hal baru, sulit konsentrasi, termasuk sulit mengingat waktu dan tempat, terutama setelah mereka berpindah dari kampungnya ke embarkasi atau ke Tanah Suci.
Imran mengatakan demensia menjadi salah satu penyakit rentan yang perlu diantisipasi dalam penyelenggaraan haji tahun ini.
BACA JUGA:
Alasannya, terdapat 45 persen dari total 200 ribuan kuota calon haji yang rentan mengalami demensia.
Tenaga kesehatan haji telah disiagakan untuk melakukan pendampingan kepada pasien hingga mereka pulih dan mengajak untuk bersosialisasi dengan rekannya guna mencegah demensia.
“Demensia ini merupakan fenomena jamaah haji Indonesia tahun ini, karena memang jumlah lansianya lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Calon haji yang mengalami demensia langsung dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Madinah untuk mendapatkan terapi stimulasi kognitif. Biasanya setelah terapi ini ingatan pasien akan pulih kembali, kata Imran.
BACA JUGA:
Setelah pasien dinyatakan pulih, hal yang masih perlu diwaspadai adalah potensi demensia yang dipicu dehidrasi akibat kelelahan pasien selama beribadah.
"Bagi mereka yang lansia disarankan untuk beristirahat yang cukup dan tidak memaksakan diri beraktivitas di luar kegiatan ibadah haji, sebab cuaca sedang panas," ujarnya.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Liliek Marhaendro Susilo mengimbau calon haji, terutama lansia dan mempunyai risiko tinggi kesehatan untuk tidak memaksakan diri melakukan aktivitas fisik yang berlebihan.