Meski sempat dibully, Ganjar mengaku tetap melanjutkan programnya terkait pencegahan paham radikalisme ini.
Dia menyampaikan jika memang tak setuju dengan paham Pancasila dan menganut paham radikalisme hingga komunisme lebih baik keluar dari jabatan yang mereka emban.
(BACA JUGA:Kalau Pilpres Diadakan Sekarang, Ganjar Pranowo Jadi Capres Menang di Dua Provinsi)
Ganjar mengatakan tujuh kepala sekolah yang diduga terindikasi menganut radikalisme telah mendapat pembinaan.
Pemahaman Pancasila, kata Ganjar, dinilai penting untuk dibenahi. Ganjar menganggap sekolah merupakan tempat yang harus segera dibenahi mengenai ideologi.
Dia mendapat banyak laporan dari banyak tokoh agama dan masyarakat mengenai penanaman paham radikalisme di sekolah yang mulai masif.
Seperti diberitakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan ciri dan strategi penceramah radikal.
(BACA JUGA:Ganjar Bawa Tanah dan Air Keramat ke IKN, Netizen: Harusnya Tanah dari Desa Wadas)
Ketua Badan Penanggulangan Ektremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Muhammad Syauqillah menilai, apa yang dilakukan BNPT telah sesuai.
Yakni dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai badan yang menanggulangi terorisme.
"Apa yang disampaikan BNPT itu sudah sesuai dengan koridornya, ciri-ciri penceramah itu, saya sepakat dan faktanya memang demikian," kata Syauqillah, Jumat, 11 Maret 2022.
Menurut dia, sejatinya poin-poin yang dikemukakan BNPT terkait dengan lima ciri atau indikator penceramah radikal dalam konteks kajian radikalisme terorisme memang fakta dan datanya demikian.
(BACA JUGA:'Berani Gundul' Ganjar Pranowo Cukur Habis Rambutnya sampai Plontos, Netizen: Keren Pak, Upin Kalah Ganteng )
Jika melihat dari 5 poin yang dikemukakan BNPT, kata Syauqillah, intinya adalah bahwa apa pun yang menyalahi konsensus nasional.
Yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, adalah radikal.