Karena ambisi kekuasaan, lanjutnya, Jokowi-Luhut menjadi rezim yang paranoid.
Dia menyebut ciri rezim paranoid adalah merasa tidak pernah aman. Selain itu, rezim paranoid juga menutupi kelemahan dengan cara menggertak dan menggerakkan massa untuk menampilkan citra seolah merekalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan bangsa.
(BACA JUGA:Survei Jokowi 3 Periode, Segini Jumlah Masyarakat Indonesia yang Mendukung)
“Saya kasihan terus terang melihat keadaan kita sekarang ini. Rezim kerahkan seluruh lurah dari seantero Indonesia, nanti mungkin juga asosiasi-asosiasi tertentu.Kemudian nanti eksponen bangsa, petani, nelayan, buruh, pegawai negeri, kemudian pensiunan ini pensiunan itu, dan lain-lain,” urainya.
Amien Rais menilai cara rezim menggerakkan massa merupakan cara yang kosong secara substantif.
Dia menuturkan sandiwara politik yang dipertontonkan Jokowi-Luhut semakin lama kian menggila dan ugal-ugalan.
“Kesimpulan saya bahwa memang saudara saya Jokowi ini, selain tidak kompeten sebagai pemimpin, pernah saya tulis dalam risalah kebangsaan saya, juga tidak tahu kapan dia harus mundur,” ucapnya.
(BACA JUGA:Waketum Demokrat Sentil Menteri Jokowi yang Sibuk jadi Timses Presiden 3 Periode, Siapa yang Dimaksud?)
Padahal, lanjut Amien Rais, pemimpinan yang baik itu harus tahu kapan mundur.
Terlebih, konstitusi jelas mengatur bahwa Presiden hanya bisa menjabat dua periode.
“Tapi sekarang mau dipaksakan supaya ada sidang MPR khusus untuk membuat PPHN. Tapi kemudian juga nanti saya kira arahnya akan mengubah secara sangat ugal-ugalan, lebih dari itu sangat jahat, akan berikan tiga periode lagi,” pungkasnya.
Seperti diberitakan, Tenaga ahli utama kantor staf presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, semua pembantu presiden baik para menteri pun para staf di Istana, tidak pernah inginkan jabatan presiden 3 periode.
(BACA JUGA:SBY Tegas Tolak Jabatan 3 Periode, Netizen: Bapak Negarawan Sejati, Tak Ada Niat Apalagi Minta Tunda Pemilu)
Menurut Ngabalin, semua pembantu memiliki pandangan dan sikap yang sama dengan Presiden Joko Widodo. Yakni setia dan tunduk pada konstitusi.
"Tidak ada satupun pembantu Presiden, baik para menteri, baik kami-kami yang ada di Kantor Staf Presiden atau yang ada di lingkungan Istana ini, yang tidak keluar dari jalur atau tidak offside, atau mungkin berbeda dengan sikap pikiran dan pandangan dengan Bapak Presiden Joko Widodo," ujar Ali Ngabalin kepada wartawan, Jumat 1 April 2022.