18, September, 2021

Emas Sentuh Level Tertinggi Sepekan, Hal Ini Jadi Penyebab

JAKARTA – Harga emas menyentuh level tertinggi satu pekan, Selasa, terimbas pelemahan dolar setelah kenaikan inflasi Amerika yang lebih lambat dari perkiraan menyebabkan ketidakpastian atas jadwal Federal Reserve untuk mengurangi stimulus moneter.


Harga emas di pasar spot naik 0,6 persen menjadi USD1.803,69 per ounce pada pukul 01.35 WIB, dan emas berjangka Amerika Serikat ditutup meningkat 0,7 persen menjadi USD1.807,10 per ounce, demikian dikutip dari laporan  Reuters, Selasa (14/9/2021) atau Rabu (15/9/2021) dini hari WIB.


“Emas bermain-main dengan level USD1.800 menyusul data inflasi AS yang sedikit lebih lemah dari perkiraan,” kata Suki Cooper, analis Standard Chartered Bank, menambahkan “latar belakang makro tetap kondusif untuk kenaikan harga lebih lanjut.”


Indeks Harga Konsumen (CPI) inti AS naik tipis 0,1 persen pada Agustus, meleset dari ekspektasi 0,3 persen, dan membebani dolar AS. Itu adalah kenaikan terkecil sejak Februari dan mengikuti peningkatan 0,3 persen pada Juli.


“Kendati pengumuman  tapering  sepertinya tidak mungkin sampai pertemuan FOMC November, pertemuan September akan memperkenalkan ‘titik’ untuk 2024. Titik 2024 dapat mencerminkan dua kenaikan suku bunga pada 2023,” ujar Cooper.

BACA JUGA: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Simak Rekomendasi Saham Para Analis


Data inflasi dapat memperkuat pandangan bahwa The Fed mungkin akan memperlambat langkah-langkah dukungan ekonomi dan mempertahankan suku bunga yang rendah. Suku bunga yang lebih rendah menurunkan  opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.


Data inflasi yang di bawah ekspektasi tersebut adalah “kabar baik bagi emas”, karena membuat pengumuman  tapering  September dari The Fed lebih kecil kemungkinannya, kata Ed Moya, analis OANDA.


Diantara logam lainnya, palladium anjlok 5,4 persen menjadi USD1.973,47 per ounce, terendah sejak Juli 2020, dan platinum merosot 2,1 persen menjadi USD941,06 per ounce.


Palladium jatuh hampir 20 persen sejauh ini pada September. “Pelemahan rantai pasokan yang mempengaruhi, khususnya,  chip  dan manufaktur mobil, memiliki efek menekan pada logam kelompok platinum tersebut,” kata analis independen Ross Norman, menambahkan walau gangguan pasokan berlanjut, harga kemungkinan akan tertekan.

Perak naik 0,5 persen menjadi USD23,84 per ounce. (git/fin)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer