Istana Kritik Anies Baswedan Terkait 'Efek Kejut'

Istana Kritik Anies Baswedan Terkait 'Efek Kejut'

JAKARTA- Juru bicara Presiden Fadjroel Rachman menanggapi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait 'efek kejut'. Efek Kejut yang dimaksud di sini, terkait adanya antrean panjang dari masyarakat setelah adanya pembatasan transportasi massal, TransJakarta, MRT dan LRT pada 15 Maret kemarin.

"Dalam situasi pandemi COVID-19 sekarang, tak boleh ada kebijakan coba-coba yang tak terukur. Publik tak memerlukan kebijakan 'efek kejut', tapi kebijakan rasional dan terukur yang memadukan kepemimpinan organisasi, kepemimpinan operasional, dan kepemimpinan informasi terpusat sebagaimana yang ditunjukkan Presiden Joko Widodo sebagai 'panglima perang' melawan pandemi COVID-19," kata Fadjroel lewat keterangan tertulis, Rabu (18/3).

Saat ini, kata Fadjroel, Presiden Jokowi telah memutuskan kebijakan pembatasan sosial, (social distancing) berdasarkan UU No: 6/2018 sebagai respons atas kedaruratan kesehatan masyarakat.

"Bahwa benar menurut UU tersebut dimungkinkan adanya karantina wilayah (lockdown) tetapi kehati-hatian mempertimbangkan keselamatan dan kehidupan publik tetap menjadi prioritas dalam memutuskan kebijakan publik," ujar Fadjroel.

"Presiden Joko Widodo tidak memilih kebijakan karantina wilayah, tetapi memilih kebijakan pembatasan sosial," imbuhnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membatasi transportasi umum pada tanggal 15 Maret lalu. Kebijakan ini sebagai langkah pencegahan penularan virus corona di Jakarta. Sayangnya, terdapat sejumlah antrean panjang olah calon penumpang yang hendak menggunakan jasa transportasi TranJakarta, MRT dan LRT.

Kebijakan ini lantas menuai kritikan dari sejumlah pihak. Pada malam harinya, kebijakan tersebut dicabut.  Dalam rapat teknis percepatan penanganan corona, Anies Baswedan beralasan, pembatasan transportasi tujuannya untuk memberikan efek 'kejut' kepada masyarakat bahwa virus corona itu nyata.

"Tadi pagi kendaraan umum dibatasi secara ekstrem, apa sih tujuannya? Tujuannya, mengirimkan 'pesan kejut' kepada seluruh penduduk Jakarta bahwa kita berhadapan dengan kondisi ekstrem. Jadi, ketika orang antre panjang, 'Oh iya COVID-19 itu bukan fenomena di WA yang jauh di sana. Ini ada di depan mata kita.' Kalau kita tidak kirim pesan efek kejut ini penduduk di kota ini masih tenang-tenang saja, yang tidak tenang ini siapa yang menyadari ini," beber Anies.

"Sesuai arahan Presiden terkait penyelenggaraan kendaraan umum massal untuk masyarakat, maka kami kembali menyelenggarakan dengan frekuensi tinggi untuk penyelenggaraan kendaraan umum di Jakarta," kata Anies di Balai Kota, Jakarta. (dal/fin).

Sumber: