Saksi Uang

Saksi Uang

--

Oleh: Dahlan Iskan

DIPERIKSA sebagai saksi tidak selamanya sumpek. Apalagi kalau pemeriksanya pintar. Saya lebih sering diperiksa oleh petugas yang pintar-pintar.

Tentu ada kalanya petugas mengajak bicara soal di luar materi pemeriksaan. Misalnya bertanya soal pengalaman saya terkena sakit kanker berat. Sampai harus transplantasi hati.

Ada juga pemeriksa yang berterus terang: mengaku sebagai perokok berat. Ia minta ''izin'' sesekali meninggalkan ruang pemeriksaan. Rupanya ia harus merokok dulu. Ia juga heran mengapa saya tidak pernah merokok. 

Ada lagi pemeriksa yang pangkatnya tidak tinggi tapi terlihat mendalami filsafat. Ia bukan lulusan akademi militer. Ia perwira yang direkrut dari universitas umum. Dari fakultas hukum.

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan di pokok masalah, ia mengajak bicara soal lain. Awalnya saya kira itu pertanyaan pancingan. Ternyata sangat ilmiah, penuh dengan nilai filsafat hidup.

"Apakah di dunia ini ada pengusaha yang baik?" tanyanya. Ini pasti pancingan. Saya ingat waktu perkenalan tadi. Namanya diakhiri dengan marga Batak. Berarti ia Kristen. Rajin ke gereja.

"Dari gereja HKBP ya?" tanya saya sebelum menjawab pertanyaannya.

"Saya kebetulan Katolik," jawabnya. 

"Umumnya orang Batak gerejanya Huria Kristen Batak Protestan. Berarti pernah di seminari?" tanya saya.

"Oh...saya tidak pernah masuk seminari. Saya orang biasa," jawabnya.

"Di mana belajar filsafat?"

"Suka baca buku filsafat saja," jawabnya.

Seorang petugas di sebelahnya nyeletuk: ia itu suka baca bukunya Aristoteles.

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI Google News


Afdal Namakule

Tentang Penulis

Sumber:

Berita Terkait

Kalah Takut

1 hari

Madura Kaili

1 minggu