Posisi Strategis Indonesia sebagai Global Middle Power

Posisi Strategis Indonesia sebagai Global Middle Power

Peran Penting dan Strategis Indonesia di ASEAN 2023--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Dalam kerangka politik luar negeri bebas dan aktif, Indonesia tergabung dalam beberapa fora kerja sama ekonomi internasional dan tercatat sebagai satu-satunya negara yang menjadi anggota dalam tiga fora kerja sama ekonomi utama global dan kawasan, yaitu G20, APEC, dan ASEAN.

Posisi penting dan strategis ini semakin menegaskan Indonesia sebagai global middle power yang secara substansial mampu mempengaruhi agenda global serta menjadi bagian dari solusi permasalahan global.

Indonesia juga sekaligus dapat menjadi jembatan komunikasi dan honest broker dari ketiga fora tersebut, mendorong agenda streamlining dari level global ke regional, serta mengartikulasikan agenda-agenda yang menjadi kepentingan kawasan ke level global.

BACA JUGA:ASEAN Diharapkan Jadi Jangkar Stabilitas Perekonomian Global

“Posisi unik yang dimiliki Indonesia dengan menjadi anggota di ketiga fora tersebut memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memainkan peran strategis di level global maupun kawasan,” tutur Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi.

Hal itu ia utarakan saat menyampaikan keynote speech pada Seminar Nasional “Road to Indonesia’s ASEAN Chairmanship in 2023: Economic Pillar” di Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Subang, Jawa Barat, Jumat (2/12).

Setelah sukses menyelenggarakan Presidensi G20 Indonesia, pada tahun depan Indonesia kembali dipercaya untuk menjadi Chairmanship ASEAN 2023.

Dengan pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN yang hampir selalu berada di atas rata-rata pertumbuhan dunia, Indonesia akan mengusung tema “ASEAN Matter: Epicentrum of Growth”.

BACA JUGA:Indonesia Resmi Menjadi Ketua ASEAN 2023

Indonesia juga akan mengangkat 3 klaster utama agenda prioritas yaitu recovery-rebuilding, digital transformation, dan sustainability.

Hal ini sekaligus meresonansi agenda Presidensi G20 Indonesia di tahun 2022 serta diharapkan mampu menjadikan kawasan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan yang stabil, damai, dan menjadi jangkar stabilitas perekonomian dunia.

“Saya berharap dengan seminar ini kita dapat merumuskan kebijakan konkret dari Pemerintah untuk mendukung keberhasilan pada masa Keketuaan Indonesia pada ASEAN 2023 serta masyarakat akan semakin mengenal ASEAN dan mendukung agenda Keketuaan Indonesia di ASEAN. Saya yakin seminar ini akan menyajikan diskusi yang menarik dan memperkaya wawasan kita bersama,” kata Deputi Edi.

Dalam seminar yang diselenggarakan oleh Kemenko Perekonomian tersebut, juga dilakukan sesi diskusi dan tanya jawab dengan seluruh civitas akademika Universitas Padjajaran.

BACA JUGA:Indonesia Bahas Fokus Atasi Krisis Pangan dan Resesi Ekonomi di KTT ASEAN Plus Three

Hilirisasi berbagai komoditas, peran pemuda memajukan kawasan saat Indonesia memegang Keketuaan ASEAN, hingga langkah Pemerintah mencegah ancaman resesi tahun depan menjadi beberapa pokok bahasan yang muncul.

“Selain sosialisasi, juga kami ingin membawa semangat optimisme. Indonesia menjadi salah satu dari 6 negara yang diminta menjadi contoh penanganan pandemi. Ditambah lagi dengan momen yang sangat penting di mana Indonesia menerima estafet Keketuaan ASEAN di 2023," ujar Kepala Biro KLIP Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto pada kesempatan tersebut.

"Jadi rekan-rekan semua sebagai warga negara, inilah momennya kita untuk bangkit dari pandemi serta menumbuhkan rasa kebanggaan,” sambungnya.

Dalam sesi yang dimoderatori oleh Ketua Pusat Studi Keamanan dan Internasional Unpad Deasy Silvya Sari tersebut, dihadirkan sejumlah narasumber yakni Direktur Kerja Sama Ekonomi ASEAN Kementerian Luar Negeri Berlianto Pandapotan Hasudungan Situngkir, Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Regional.

BACA JUGA:ASEAN Diminta Wujudkan Stabilisasi Kawasan dan Ekonomi yang Lebih Resilien dan Hijau

Juga hadir Sub Regional Kemenko Perekonomian Netty Muharni, dan Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah. (map/fsr)

Sumber: