Apakah Baby Blues Syndrome dan Depresi Pasca Melahirkan Itu Sama?

Apakah Baby Blues Syndrome dan Depresi Pasca Melahirkan Itu Sama?

Depresi Pasca Melahirkan, Ilustrasi oleh Amy dari Pixabay--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Anda mungkin pernah mendengar soal baby blues syndrome dan depresi pasca melahirkan.

Hanya saja Anda bingung apa bedanya baby blues syndrome dan depreasi pasca melahirkan.

Menurut ahli, via Alodokter, baby blues syndrome dan depresi pasca melahirkan sebenarnya dua kondisi yang berbeda.

BACA JUGA:Ada Alasan Mengapa Gen Z Lebih Rentan Depresi dari Generasi Sebelumnya, Ini Penjelasan Ahli

Akan tetapi, keduanya bisa dibedakan melalui gejala yang ditunjukan.

Ahli berpendapat bahwa baby blues syndrome ini umumnya hanya dirasakan 2 minggu pasca melahirkan.

Sementara pada kasus lainnya, depresi pasca melahirkan bisa disebabkan awalnya oleh baby blues syndrome yang tidak ditangani atau tak kunjung usai.

Baby blues syndrome umumnya muncul dua hingga tiga hari setelah sang ibu melahirkan, dan dapat berlangsung sampai beberapa pekan.

Gejala seorang ibu kena baby blues syndrome adalah seperti mood yang gampang berubah, atau istilahnya mood swing.

Ibu yang mengalami baby blues juga jadi mudah menangis dan gampang tersinggung.

Selain insomnia, baby blues syndrome juga dapat menyebabkan sang ibu tidak merasakan adanya ikatan dengan bayi yang baru ia lahirkan.

Merasa kehilangan kebebasan seperti saat belum melahirkan adalah ciri lain baby blues.

Sementara itu menurut pendapat lainnya, depresi pasca melahirkan tidak mesti terjadi beberapa hari setelah melahirkan.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, depresi pasca melahirkan ini dialami oleh 11-20 persen wanita.

Menariknya lagi, depresi pasca melahirkan bisa saja terjadi sekitar satu tahun setelah proses itu berlalu.

Berikut ini ciri lain dari depresi pasca melahirkan:

• Timbul keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau sang bayi
• Cemas ekstrim, membuat Anda sulit untuk menentukan pilihan  
• Kesulitan untuk terlelap
• Tidak stabil secara emosional

Jika Anda menunjukan beberap ciri di atas, maka sangat bijak bagi Anda untuk mencari pertolongan ahli sesegera mungkin.

Alasan Mengapa Depresi Mematikan

Ada alasan mengapa depresi itu mematikan, dan bukan sebuah kondisi yang bisa dipandang sebelah mata.

Mengapa demikian, karena menurut sebuah studi yang dirilis pada jurnal Atherosclerosis, ditemukan bahwa depresi itu sama bahayanya dengan kolesterol tinggi.

Menurut kesimpulan para ahli, setelah menganalisa data 3500 pria antara usia 47 hingga 74 tahun, dan dalam kurun 10 tahun terakhir, ditemukan fakta yang menarik.

Para ahli ini berkesimpulan bahwa kesehatan mental adalah sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan bahwa depresi punya kontribusi pada 15 persen kematian yang disebabkan masalah mental pada manusia.

Saking bahayanya depresi, ahli menempatkan gangguan mental ini, satu tingkat di atas bahaya yang ditebar obesitas dan diabetes.

Sementara bagaimana depresi membunuh orang yang mengalaminya, menurut pendapat ahli bernama dokter Gail Zaltz, salah satunya adalah efek depresi terhadap jantung manusia.

Penyebabnya, adalah terkait produksi hormon kortisol yang dilepaskan tubuh saat seseorang mengalami stres.

Ketika orang stres, maka efeknya adalah perubahan tensi darah, yang dapat berpotensi meningkatkan risiko serangan jantung.  

Sumber: