Rupiah Terdepresiasi 0,1 Persen Sepanjang Agustus 2022, Sama Dengan Mata Uang Ringgit Hingga Rupee

Rupiah Terdepresiasi 0,1 Persen Sepanjang Agustus 2022, Sama Dengan Mata Uang Ringgit Hingga Rupee

Ilustrasi Rupiah. FOTO: Mohamad Trilaksono - Pixabay --

JAKARTA, FIN.CO.ID -- Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengungkapkan, rupiah terdepresiasi secara moderat di bulan Agustus 2022 sebesar 0,1 persen (MoM).

Sementara itu, sejumlah mata uang negara berkembang lainnya terdepresiasi lebih dalam, termasuk Ringgit Malaysia, Peso Filipina, Yuan China, dan Rupee India masing-masing sebesar 0,6 persen, 1,8 persen, 2,2 persen, dan 0,2 persen MoM. 

(BACA JUGA:Giliran Polwan AKP Dyah Chandrawati Jalani Sidang Kode Etik Terkait Kasus Brigadir J)

(BACA JUGA:Wali Kota Gibran Beri Jawaban Tak Terduga Usai Diminta Netizen Contoh Pemprov DKI Jakarta)

"Sepanjang tahun ini, rupiah adalah salah satu mata uang dengan kinerja terbaik didukung oleh keseimbangan eksternal yang solid," kata Rully dalam keterangan tertulis, Kamis 8 September 2022. 

Sejak awal September 2022, USD terus terdepresiasi terhadap mata uang utama lainnya, termasuk Euro, Poundsterling, dan Yen seiring dengan memburuknya prospek ekonomi global dan kondisi geopolitik. Indeks USD (DXY) menembus level 110 untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir.

"Kami percaya bahwa volatilitas pasar akan bertahan dalam beberapa bulan mendatang mengingat bank sentral utama, kecuali BOJ, diperkirakan akan terus mengetatkan kebijakan moneter secara agresif untuk memerangi inflasi yang melonjak," ujar Rully.

Pada akhir Agustus 2022, cadangan devisa (FX) Indonesia stabil di USD132.2 miliar (+USD28 juta MoM) menyusul penurunan tajam di bulan Juli yang sebesar USD4,2 miliar MoM.

(BACA JUGA:Musisi Baskara Putra Sampaikan Kritik Tajam Soal Caleg DPR 2024 Tak Harus Punya SKCK Saat Maju Pemilu)

(BACA JUGA:Caleg DPR 2024 Bisa Daftar Tanpa SKCK dari Polisi, Susi Pudjiastuti Ucap Komentar Mengejutkan)

"Kami menilai tingkat cadangan devisa Indonesia pada bulan Agustus masih cukup untuk mengantisipasi volatilitas lebih lanjut di pasar keuangan, terutama nilai tukar Rupiah terhadap USD," pungkas Rully.

Sumber: